life.

Standard

start with a big, fat lump in your throat,
start with a profound sense of wrong,
a deep homesickness, or a crazy love sickness,
and run with it.

– Debbie Millman, x

Advertisements

Balada Priwitan

Standard

Priit… priitt…

Lirih suara itu terdengar, sayup terdengar keraguan
Dalam nada yang terdengar tanpa gairah itu
Mungkin ada sebersit rasa rendah diri di sana
Suara priwitan itu begitu lirih, tidak enak didengar

(Kenapa, oh kenapa? Lirih, tanpa gairah, seru mereka, mati saja, mati saja!)

Seorang tukang parkir dengan sebuah peluit oranye jelek
Rambutnya ikal dengan panjang tidak lebih dari satu buku jari
Tubuhnya kurus dan pendek, mukanya biasa saja
Takkan banyak yang ingat, dia tidak spesial, tidak istimewa

Priit… priitt…

Suara lirih itu bergema di dalam kepala ini
Tangan tengadah, raut muka memelas
Ada bercak ragu di kerut-kerut mukanya, dalam mata sayunya
Seakan tak yakin dengan apa yang sedang ia lakukan

(Apakah ada pilihan? Tidak, tidak, seru mereka, harusnya iya.)

Selembar uang lecek, nominal kecil yang tidak begitu membanggakan
Disimpannya dalam kantong celana lusuh
Rautnya tidak berubah, penuh ragu, ketidakpastian, dan bingung
Kendaraan itu berlalu dan dia pun menyingkir, menunggu berikutnya

Priit… priitt…

(Apakah cuma uang yang dicarinya? Apalagi, seru mereka, apalagi?)

Hidup Selow

Standard
IMG_20180124_061551_HDR.jpg

Gambar nasi kuning diambil hari ini, cerita nasi uduk dari hari sebelumnya.

“Mbak Ellen kok hidupnya slow banget, ya.”

Ujug-ujug, tanpa preambul, tiba-tiba bapak penjual nasi uduk favorit menanyakan hal ini. Sambil memegang bungkus nasi yang sedang dikaretin, bapake melirik saya, menambahkan komentar, “Bapak lihat kalau lagi jalan, selow gitu. Asik. Kayak nggak ada beban, nggak punya masalah gitu.”

Dua atau tiga detik saya habiskan tertegun dan bengong. Tiba-tiba ditodong dengan penghakiman seperti itu, apa yang bisa saya lakukan untuk bela diri? Continue reading

Parno, Obat, dan Sesuatu yang Banal

Standard

Kira-kira sebulan lalu, saya merasa terus-terusan kurang enak badan. Apesnya, saat itu lagi rame wabah difteri. Bah. Entah karena sugesti dan keparnoan, saya merasa di balik tenggorok saya, tepat sebelum sak tinju yang disebut tonsil itu, rasanya ada semacam selaput dahak yang udah dibatuk-batukin, diohok-ohokin, dikumur-kumurin, ndak mau hilang-hilang. Keparnoan makin menjadi karena saya harus pergi ke luar negeri. Lah ya masak kalo saya difteri terus saya tega tetap berangkat dan nyebarin wabah di negara orang?

Continue reading