life.

start with a big, fat lump in your throat,
start with a profound sense of wrong,
a deep homesickness, or a crazy love sickness,
and run with it.

– Debbie Millman, x

tumbuh bersama demokrasi

Dari manusia apolitis, menjadi manusia politis.

Kemarin saya menunaikan salah satu hak saya sebagai WNI, yaitu menggunakan hak suara dalam proses pemilihan umum. Ini kali kedua saya ikut serta dalam pemilihan presiden RI.

Keduanya terjadi saat saya berada di luar domisili KTP. Artinya, saya belum sempat ikut serta dalam proses Pileg. Sayang sekali.

Semakin saya bergerak menjadi manusia politis, justru yang di legislatif itu yang penting untuk dipantau, diawasi, diajak berdiskusi, dan didorong untuk bekerja dengan lebih baik. Lima tahun lagi, semoga saya bisa ikut serta dengan lebih aktif dan atentif lagi dalam proses demokrasi ini.

Mengikuti dua pilpres ini, saya rasa saya tumbuh bersama proses demokrasi di Indonesia. Dari yang apolitis menjadi politis.

Dan, tadi saat berada di bilik pencoblosan, sebelum menentukan pilihan ada rasa bahwa setelah ini maka keputusan-keputusan saya setelahnya harus lebih sadar lagi atas pilihan pada 17 April 2019 ini.

Seakan saya mendapat suatu pencerahan, bahwa ya, bila dipraktikkan dengan ideal, demokrasi adalah sistem terbaik untuk negara tercinta ini. Dengan ideal dalam artian setiap pemilih mengerti akan konsekuensi pilihan, dan terlibat aktif dengan yang ia jadikan pilihan.

Bukan sekadar mindlessly electing someone into the position of power.

Lima tahun sudah berlalu dari 2014, dan di pilpres tahun ini saya melihat perbedaan sikap diri. Seperti, walau sudah memilih, saya tidak lantas ngotot pilihan saya yang harus jadi pemenang.

Sebabnya, siapapun yang jadi presiden, saya tetap akan menagih hak-hak saya yang harus ditunaikan oleh negara. Ada pro-kontra tentu. Hanya, sekarang mindset saya adalah, bila pilihan saya tidak menang, tandanya saya perlu bekerja sedikit lebih keras untuk menagih hak-hak saya.

Hence, I think I have grown along with how the democracy process in Indonesia goes.

toleransi punya siapa?

Sejak 2015 silam, kata toleransi sudah jadi perhatian alam bawah sadar saya yang naik ke permukaan.

Apa sih maksud dari kata ini?

Apa bentuk nyatanya yang bisa ditemui sehari-hari?

Apakah maksudnya saling menghargai, saling menghormati perbedaan yang ada?

Adakah indikator lain yang membentuk toleransi?

Apakah toleransi itu milik yang mengklaim sudah melakukannya?

Siapa yang jadi subjek dan objek dalam toleransi?

It’s still an ugly on going process inside my head. So, crossing fingers.