Cerituit: #aku dan #dia

Standard

Cerita #aku dan #dia tayang pada 16 Desember 2012 silam di jejaring sosial Twitter @erulenonk. Yang saya tayangkan ulang di jurnal ini adalah yang sudah direvisi terutama kata-kata yang saya singkat berhubung hanya diperbolehkan 144 karakter per-cuitan.

aku dan dia
source: x

#aku dan #dia
1. Suatu hari #aku melihat #dia, wanita itu, entah darimana berasal, tiba-tiba saja dia ada, dan selalu ada di hari-hariku sejak itu.

2. Rambutnya pendek, tidak cepak, tapi sangat pendek. Entah siapa yangg memotongnya. Tapi cukup rapi. #dia kurus, bajunya dodor. Entah baju siapa.

3. Mungkin hanya anganku tapi #dia tersenyum saat perjumpaan pertama kami. Mungkin. #aku tidak tahu apa matanya menatapku saat itu.

4. Senyumnya bukanlah senyum yang bahagia, senyum cemo’oh tapi bukan padaku, mungkin pada diri sendiri. Mungkin kasihan pada dirinya. Atau #aku.

5. Senyum yang seakan sebuah kode. Pikirku, #dia mungkin gila. Karena itu timbul rasa iba, tapi tak ada yg bisa #aku perbuat untuknya.

6. Beberapa kali #aku melihat #dia duduk di pinggir selokan. Tubuh disekelilingi lalat. Duduk dengan kaki terlipat ke arah tubuh. Sendiri. Sepi.

7. Beberapa kali #aku lihat #dia merenung di puing-puing ruang yang terabaikan. Mungkin dia menunggu seseorang. Mungkin dia menunggu uluran tangan.

8. Pernah #aku membayangkan hidup #dia selama aku terkungkung dalam duniaku sendiri. Dunia yg normal, kata mayoritas.

9. Apa yg terjadi padanya? Kenapa #dia bisa terdampar di sini? Siapakah dirinya? Hanya sunyi jawabku. Bahkan angan tak sanggup membayang.

10. Hanya ketika #aku berjumpa dengan #dia kepalaku berpikir tentangnya dan hidupnya. Bila tidak, pikiranku hanya tentang duniaku yang monoton.

11. Beberapa waktu jumpaku dengannya, #dia berbaju yang berbeda. Entah siapa yang berinya pakaian. Juga makan. Juga sedikit uang.

12. Mungkin mereka yang iba pada #dia. Tentu saja ada mereka, tidak hanya #aku dalam hidupnya saat kusibuk dengan duniaku. Sombong sekali diriku.

13. Mereka yang tanpa wajah dalam pikirku, yang turut iba pada #dia dan memberi. #aku? Cukup hanya rasaku dan pikirku yang kasihan.

14. #aku tidak membantu, hanya merekalah. Baju. Makanan. Sedikit uang. Iba. Tapi #dia tetap terlantar, di luar, di malam. Sendiri. Sepi.

15. Hari ini #dia terbaring di tengah gang sempit. Bergeming tubuhnya. Sebungkus nasi di depan wajahnya.

16. #aku berandai, matikah #dia? Pergikah tuk selamanya dari dunia yg berbeda dengannya? Bebaskah akhirnya dia?

17. Berandai-andai, diriku bergerak sambil lalu menuju duniaku, menghampiri #dia sejenak hanya dengan pikirku.

18. Ketika #aku kembali, terdengar suara gelak tawa. Ketika kumelihat, ada #dia, sedang dipinggirkan oleh mobil yang ingin lewat.

19. Tawa itu bukan #dia, tapi tentang #dia oleh orang-orang yang melihat. Tentu #aku tidak termasuk, karena aku dan pikirku terpaku dengan iba.

20. #dia terbangun, entah dari matinya atau mimpinya, berusaha melawan kantuknya atau hidupnya. Dan #aku? Kembali berlalu dengan duniaku.

21. Ada kecamuk dalam pikiranku. Kenapa #dia tak melawan? Kenapa dia biarkan menjadi gelak tawa orang lain? Kenapa dia membisu?

22. Inikah kali terakhir jumpaku dengan #dia? #aku tanya dunia. Samakah nasibnya dengan dia dan dia yang lain yang mampir dan hilang dalam duniaku?

23. Sekian kisah #aku dan #dia.

Inspirasi cerituit ini adalah seorang gadis tuna wisma, dan saya tidak yakin apakah dia juga tuna wicara karena saya tidak pernah mendengarnya berbicara. Suatu hari tiba-tiba saja dia muncul di sekitaran tempat tinggal saya dan sejak itu kami cukup sering berjumpa, terutama di pagi hari ketika saya akan berangkat ke kantor. Cerita ini tertuang dari hal nyata yang terjadi dalam suatu episod kehidupan saya, dan dicuit di hari terakhir saya berjumpa dengannya.

I have never meet her again after that fateful day where she lain down on the asphalt while people laughed at her as others tried to remove her prone body from the middle of the lane so a car could pass through. I still remembered the day vividly in the back of my mind. I wonder if she recognized me in her life? Did my presence ever get to her like hers to me? I never get to say goodbye, although really, will she need it? This sympathy of mine? I would never know.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s