Perayaan Waisak 2557 BE, sebuah pembelajaran.

Standard


Pelepasan Lampion Waisak 2556 BE, 5 Mei 2012

Boleh berkomentar soal pelaksanaan Waisak di Borobudur tahun ini dan banyaknya tanggapan dan komentar yang beredar di jejaring sosial terkait hal ini? Boleh dong ya, toh ini jurnal saya sendiri, toh adalah sebuah hak asasi saya untuk berpendapat, plus Buddha (D nya dua saudara-saudaraku, mohon diingat; kalo D-nya satu jadi Budha, maka mengacu pada salah satu Dewa dalam Mitologi Hindu) adalah ajaran yang saya anut walau saya mungkin bukan seorang penganut yang rajin beribadah ke Vihara ataupun mengetahui ajaran ini dengan baik.

Pada Waisak 2556 BE (Buddhist Era) tahun lalu, saya lebih tepatnya adalah seorang Buddhis yang datang untuk berwisata dan bukan berziarah, dan memang terasa beberapa poin yang disebutkan dalam tulisan bertajuk Ketika Waisak Jadi Obyek Wisata (tulisan ini dishare oleh teman saya via Facebook), bahwa para peziarah, prosesi dan tempatnya telah menjadi objek wisata, sesuatu yang bernilai komersil.

Tak dapat ditampik pula bahwa penyelenggaran Waisak di Borobudur memang dibuka untuk umum/publik, terbukti dengan adanya acara pelepasan lampion yang bisa diikuti oleh siapa saja; dengan membayar donasi sebesar IDR 100.000 bisa turut menerbangkan sebuah lampion yang telah ditulisi nama dan harapan.

Kembali lagi, dalam sebuah perayaan, terutama perayaan keagamaan, ada konteks-konteks yang harus dipahami, baik oleh penyelenggara, peserta dan penikmat acara; dan konteks-konteks inilah yang rupanya menjadi polemik dalam perayaan Waisak 2557 BE. Konteks bahwa penyelenggara *mungkin* luput untuk mengantisipasi kemungkinan pengunjung umum yang membludak, konteks bahwa peserta acara mau tidak mau akan menjadi sebuah obyek tontonan, dan konteks bahwa para penikmat acara harusnya tidak hanya datang untuk menikmati acara ini untuk dirinya sendiri.

Kurangnya pemahaman konteks ini, terutama dari sisi penikmat yang datang hanya untuk menikmati pelepasan lampion, kemudian mengakibatkan adanya etiket yang dilanggar. Yang terpenting menurut saya dalam hal ini adalah toleransi dan sopan santun pada umat yang sedang sembahyang, pada umat yang sedang merayakan harinya. Hanya itu saja. Itu merupakan etiket umum dalam bersosialisasi, terlepas dari acara keagamaan dan komersialisasinya. Etiket inilah yang dilanggar oleh orang-orang, bukan karena ketidaktahuan, tapi karena ketidakacuhan.

Coba kita andaikan sejenak, ketika ada orang yang tak dikenal bertamu di rumahmu, akankah dia sembarangan memotret isi rumahmu tanpa ijin? Akankah dia masuk ke kamarmu tanpa meminta ijin? Akankah dia membuang sampah sembarangan di rumahmu? Dalam konsep etiket di kepala saya, jawabannya adalah tidak untuk semua pertanyaan. Bedakah dengan apa yang ada dikepalamu? Hal serupa jugalah yang baiknya diaplikasikan dalam menikmati perayaan hari raya Waisak. Itu menurut saya.


credit: Dodi Heru


credit: Dodi Heru

1) Apa yang salah terlihat dari ke dua foto ini? Pakaian yang tidak pada tempatnya? Etiket mengambil foto? Menginjak stupa yang umurnya melebihi umur orangtua-nya?

Mari refleksi diri, supaya tidak melakukan hal serupa di kemudian hari di acara (keagamaan) apapun. Saya pun harus berefleksi. Tak bisa saya pungkiri bahwa saya sedikit banyak adalah bagian dari orang-orang yang telah dengan semangat 45 datang dan meramaikan Waisak tahun lalu untuk mendapatkan foto-foto prosesi Waisak, walau cara saya tak seekstrim foto-foto di atas <=== pembelaan diri, either way, saya tetap bersalah D:

2) Salah panitia sih! Salah petugas Borobudur sih ga sigap! Salah turisnya tuh! Salah yang mayoritas tuh! Ih salah orang yg menjual paket wisatanya tau, gw rugi, sudah hujan-hujanan, ga jadi lihat lampionnya dilepas lagi, rugi! Salah sendiri kenapa dibuat publik! Salah ababil sok jadi fotografer tuh!

Menuding dan mengutuk tak pernah menyelesaikan masalah, saya tahu, anda pun tahu, semua orang pun tahu itu. Yang diperlukan adalah solusi dan komitmen untuk mengaplikasikan solusi tersebut saudara-saudara, bukan komentar-komentar yang menyudutkan pihak-pihak tertentu.

Saya berterima kasih penyelenggaraan Waisak tahun ini sudah menjadi sorotan segelintir pihak karena ada hikmah yang bisa dipetik atas kejadian ini. Semoga kejadian serupa tidak berulang di masa depan, di acara apapun juga.

Sekian, terima kasih. Salam damai sejahtera makmur sentosa!

Referensi bacaan saya sebelum menulis artikel ini:

  • http://othervisions.wordpress.com/2013/05/24/ketika-waisak-jadi-obyek-wisata/
  • http://efenerr.wordpress.com/2013/05/26/waisak-dan-persoalan-yang-tak-kunjung-usai/
  • http://gayahidup.plasa.msn.com/hang-out/okezone/kisah-suram-waisak-di-candi-borobudur-tahun-ini
  • http://www.kaskus.co.id/thread/51a1d1da8027cfbf10000002
  • http://dodiheru.wordpress.com/2013/05/26/dari-tukang-foto-ke-tukang-foto-jilid-ii/
  • http://mbooh.wordpress.com/2013/05/27/pahami-jangan-maunya-dipahami/
  • http://chirpstory.com/li/81413
  • Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s