Sebelum Bromo Mengamuk (13-15 Juli 2010)

Standard


Gunung Bromo dilihat dari Bukit Penanjakan.

Bromo, kaldera yang terbentuk ratusan ribu tahun yang lalu, adalah sebuah tempat yang terkenal akan hamparan padang pasir yang luas serta barisan bukit hijau nan asri. Namun di penghujung akhir tahun 2010 sampai dengan saat artikel ini ditulis (14/2/11), Bromo telah menjadi sebuah tempat yang harus diwaspadai oleh penduduk sekitar karena aktivitas vulkanik yang terus meningkat. Tidak terbayang bagaimana rupa Bromo sekarang, karena yang ada dalam ingatan saya hanyalah Bromo sebelum ia mengamuk.


Selasa, 13 Juli 2010 adalah hari yang cerah bagi saya dan keempat teman saya untuk memulai perjalanan kami menuju Gunung Bromo. Kami berangkat pada sore hari dengan menaiki kereta api kelas ekonomi dari Bandung ke Malang. Keesokan paginya kami sampai di stasiun Malang dan setelah menyantap semangkuk bubur ayam di luar stasiun, tanpa tedeng aling-aling kami segera menyewa sebuah kendaraan umum untuk mengantarkan kami ke terminal yang dekat dengan jalur menuju Bromo. Bersama dengan sekelompok pecinta alam yang berencana berkemah di Gunung Semeru, kami pun menyewa sebuah hardtop terbuka.

Selama perjalanan dengan menggunakan hardtop tersebut, tak hentinya saya berdecak kagum melihat alam yang asri di kiri dan kanan jalan, sungguh pemandangan yang menyegarkan bila dibandingkan dengan gedung-gedung pencakar langit yang ada di kota. Saat jalan mulai menanjak, udara pun semakin dingin dan bahkan kabut sempat turun sebelum kami sampai pada tujuan. Berbeda dengan orang-orang yang biasanya memilih Probolinggo sebagai tempat persinggahan sebelum menuju Bromo, kami menetapkan untuk singgah di Ranu Pani, sebuah daerah yang lebih dekat dengan Gunung Semeru daripada Gunung Bromo.


Sore yang berkabut di Ranu Pani.

Sesampainya di Ranu Pani, kami tinggal di rumah salah seorang penduduk dengan membayar sedikit uang repot. Daerah yang kental suasana alam pedesaannya ini, sepi dari orang begitu petang datang, hanya sesekali mobil hardtop melintas untuk mengantarkan para turis seperti kami. Karena harus menuju Bromo pada pukul tiga dini hari nanti, maka kamipun segera tidur setelah menyantap makan malam sederhana yang disediakan oleh pemilik rumah. Begitu jarum jam menunjuk pukul dua dini hari, kami berlima pun segera bersiap-siap menuju Bukit Penanjakan, tempat di mana kami akan melihat matahari terbit. Saat itu udara sangat dingin, sekitar tujuh sampai delapan derajat selsius, dan langit penuh dengan ber-bagai rasi bintang yang biasanya tidak terlihat di kota.

Kali ini kami berlima berangkat dengan menggunakan sebuah hardtop tertutup dan kembali melewati jalan berbatu yang berlika-liku. Setelah memakan waktu lebih dari satu jam, kami sampai di Bukit Penanjakan dan beristirahat sebentar di sebuah kedai sembari menikmati jagung bakar serta segelas teh manis hangat. Begitu selesai, kami segera mendaki ke puncak dan mencari tempat yang strategis untuk menyaksikan terbitnya matahari bersama-sama dengan puluhan turis lainnya. Beberapa saat kemudian, dengan berlatarkan pegunungan Tengger yang megah, matahari pun menyembul dengan perlahan. Sebuah bulatan oranye yang berkilau indah dan menyilaukan di ufuk timur. Serentak kamera-kamera pun sibuk bekerja untuk mengabadikan momen yang hanya berlangsung selama beberapa menit tersebut.

Begitu matahari sudah bulat sempurna dan langit biru cerah terhampar luas, puluhan turis pun segera menggunakan kamera mereka untuk mengabadikan Bromo yang terlihat jelas dari Bukit Penanjakan. Puas memandang keindahannya dari jarak jauh, kami kembali bergegas untuk melihat langsung alam hijau Bromo. Pemandangan yang mungkin sekarang sedang tertutup tumpukan abu vulkanik.

Catatan kecil: Artikel ini ditulis 14 Februari 2011 berdasarkan perjalanan yang dilakukan pada Juli 2010. Kenyataan yang berbeda dengan apa yang dikisahkan dalam artikel ini bukan tanggung jawab saya, hehehe. Semoga saja artikel ini bisa diperbaharui dan saya bisa mengunjungi Bromo sekali lagi, dan Ranu Kumbolo juga! ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s