“Kamu gunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.”

Standard


Kira-kira begitulah pesan Pak Sarijan kepada saya.


Saya berkenalan dengan Pak Sarijan saat liputan saya ke Pasar Baru tanggal 27 Juli silam. Demi menuntaskan hutang dua dari lima tulisan untuk minggu pertama internship di Wego Indonesia. Pak Sarijan adalah petugas ketertiban di Pasar Baru. Sudah dari tahun 1965 dia mengawal pasar ini. Usia bapak ini bahkan lebih sepuh dibanding usia NKRI. Tahun 1942 ia lahir, akunya.


Pak Sarijan yang murah senyum. Terima kasih pak atas cerita-ceritanya.🙂

Banyak cerita yang saya dapatkan dari bapak yang gemar berkelakar ini. Seperti kenyataan kalau Pasar Baru tak seramai dulu. Alasannya? Karena lahan parkir yang semakin sempit, terjajah ulah PKL yang tumpah ruah ke jalanan. Pak Sarijan mengeluhkan bahwa pemda DKI Jakarta tak mengacuhkan kondisi pasar tertua ini. Mendengar berita dari saya tentang rencana Ahok, Wagub DKI yang kontroversial, akan segera memperhatikan nasib Pasar Baru, ia hanya berharap itu benar terwujud.

Kembali ke Bahasa Indonesia. Saya menganggap menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar adalah perihal tidak mudah. Susah sekali bagi saya untuk berekspresi lebih dengan bahasa ini tanpa terdengar berlebihan dan basa-basi. Lebih mudah bagi saya untuk menggunakan Bahasa Inggris dalam mengekspresikan sesuatu. Bukan sesumbar atau berarti Bahasa Inggris saya super-bagus, tapi saya lebih terbiasa menggunakan bahasa negri orang ini untuk berekspresi.

Lebih tepatnya, saya membiasakan diri untuk terbiasa dengan Bahasa Inggris. Alasan yang paling bisa saya ingat adalah karena dulu saya pernah diremehkan seorang guru bahwa saya tidak akan bisa lancar menggunakan bahasa internasional tersebut. Mungkin untuk pembuktian diri saja, lantas saya meng-inggris-kan beberapa gaya hidup saya. Seperti menonton film berbahasa Inggris tanpa teks alih bahasa, membaca berita/cerpen/novel berbahasa Inggris, menulis catatan harian dan fiksi dalam bahasa Inggris, berinteraksi di forum internet berbahasa Inggris. Pokoknya selalu ada bahasa Inggris dalam hidup saya. Setiap hari. Terutama sejak akhir 2004 dan masih berlanjut sampai sekarang.

Efeknya? Ya, itu tadi. Saya tidak terbiasa dengan Bahasa Indonesia. Atau setidaknya Bahasa Indonesia tulis. Saya jarang baca koran. Untuk baca novel fiksi berbahasa Indonesia pun saya pilih-pilih, dalam setahun mungkin cuma satu atau dua novel Bahasa Indonesia yang saya baca. Membaca buku sastra dalam Bahasa Indonesia yang kalimatnya penuh detail dan kata sifat, serta kalimat imajinatif yang berbunga-bunga sulit dicerna kepala saya. Yah, atau memang saya saja yang terlalu malas mencerna. Akibatnya, kosakata Bahasa Indonesia yang saya kuasai minim. Saat menggunakan Bahasa Indonesia dengan verbal maka efeknya akan terlihat lebih parah lagi. Saya bahkan terkadang dalam bahasa percakapan tidak bisa meletakkan konsep sederhana S-P-O-K dengan tepat jitu.

Gawat sekali.

Bagaimana untuk bahasa tulis percakapan? Semakin gawat. Singkatan yang seenak jidat, penggunaan diksi yang sengaja nyeleneh hanya karena iseng, atau memang lantas tidak biasa menggunakan diksi yang tepat. Bingung? Saya berikan contoh percakapan saya dengan Pak Sarijan kala itu.

“Yuk, Pak. Saya mau lanjut muterin Pasar Baru dulu.”

“Muterin? Ga pusing kepala kamu? Nanti kayak naik, apa itu nama mainannya?”

“Uhm, komidi putar pak?”

“Ya, itu.”

Dari segi bahasa percakapan, sebenarnya kalimat saya (menurut saya pribadi) tidak salah. Saya yakin Pak Sarijan juga mengerti maksud saya, namun dia tidak terlalu setuju dengan pemilihan diksi saya: muterin. Jalan mengelilingi Pasar Baru, adalah yang menurut Pak Sarijan lebih baik dan benar untuk digunakan dalam menyampaikan maksud saya. Hmm, ya kalau dilihat dari konteks bahwa yang saya gunakan adalah bahasa percakapan, menurut saya apa yang disebut Pak Sarijan terlalu bertele-tele dan formal. Tapi lantas di benak saya pun terlintas, apakah dalam bahasa percakapan yang lebih luwes justru saya bisa seenaknya mencari jalan pintas dalam berbahasa Indonesia?

Ya mungkin contoh di atas tidak terlalu menggambarkan, tapi saya tahu betul bagaimana kacaunya saya dalam menggunakan Bahasa Indonesia. Ah, ingin sekali saya bisa menggunakan bahasa ibu ini dengan baik dan benar.

Tapi, dipikir-pikir, apa itu “Bahasa Indonesia yang baik dan benar?” Apakah yang dimaksud adalah menggunakan bahasa yang formal, resmi, dan uhm, membosankan? Apakah baik dan benar adalah sesuai dengan EYD? Apakah menggunakan kata-kata yang sesuai pada tempatnya? Apakah seenggaknya menggunakan bahasa tulis yang tiD41< 13e61N1 menulisnya? Atau yang penting informasi dan tujuan dari penggunaan bahasa itu sendiri tersampaikan?

Entahlah, tapi saya akan berusaha agar bisa berbahasa Indonesia lebih baik dan benar. Setidaknya, baik dan benar menurut hemat saya; yang semoga juga cukup baik dan benar untuk orang-orang yang berinteraksi dengan saya, baik secara langsung maupun tidak langsung. :]

One thought on ““Kamu gunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.”

  1. Pingback: Magang di @WegoID itu… (1) | a dreamer living the reality

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s