Magang di @WegoID itu… (1)

Standard


Cerita dimulai dari sini…

Jadi setelah menerima email “Selamat Anda Terpilih” dari Wego Indonesia di tanggal 19 Juli silam, maka dimulailah perjalanan saya sebagai anak magang dari brand yang didominasi warna hijau segar dan unyu ini. Akan berlangsung sebulan (sampai dengan 23 Agustus 2013) dengan durasi kira-kira 20 jam terbang per minggu. Lumayan saya jadi ada kegiatan sebelum memulai hidup baru sebagai mahasiswa lagi. :]

22 Juli 2013. Minggu 1 Hari 1: Ceritanya deg-degan.

Wah, walaupun dulu pernah jadi anak kantoran di 7Langit, punya pengalaman menulis profesional (alias dibayar untuk menulis), tetap saja saya deg-degan menghadapi hari pertama magang. Bayangkan. Ini cuma magang, loh. Tapi di TED-nya Wego Indonesia, loh. Sebuah brand yang sudah umum di dunia pemburu tiket murah.

Am I up for this internship?

Saya suka jalan-jalan, saya suka menulis. Kalau kata teman-teman dekat saya: “Cocok lo yang kerja beginian.” Maksud mereka jadi travel writer. Saya tidak menampik tentu saja. Menarik bukan, bisa jalan-jalan gratis hanya dengan modal menulis? Ya, banyak orang berpikiran sama pasti. Saya pun juga. Magang di TED Wego Indonesia, tentu bisa menjadi cara untuk testing the water, atau bahkan untuk mengarahkan karir sebagai travel writer. Oh, well tapi pemikiran itu agaknya terlalu dini, toh saya ingin melanjutkan kuliah dulu.

Anyway, saya deg-degan. Tempat baru, teman baru, pengalaman baru. Semuanya baru. Something that always makes me excited. Thrilled, even. Rasanya seperti jadi anak kecil kembali, yang gugup karena kelas pertamanya akan dimulai. Segerombol kupu-kupu berterbangan di dalam perut, menambah sensasi gugup-gugup senang.

Hari pertama di Wego Indonesia. Berkenalan dengan 2 intern lain, Edwin dan Renata. Orang ke 3 baru akan muncul keesokan harinya, Wahyu namanya. Proses perkenalan dengan sesama intern dan tim Travel Editor’s Desk (TED), pengenalan tentang Wego sebagai perusahaan, fungsi TED dalam Wego. Kemudian ada presentasi dari Mba Sica mengenai contoh tulisan traveling, bagaimana menulis yang baik, bagaimana menulis untuk Wego, harapan pelaksanaan internship ini. Kemudian presentasi dari Mba Clara tentang tanggung jawab sebagai penulis untuk menyampaikan dan berbagi kisah traveling yang bertanggung jawab. Bagaimana menggunakan matriks 5W 1H sebagai modal turun lapangan dan menulis. Kemudian berkenalan juga dengan Mba Sara, editor ketiga di TED.

Belajar. Bagi saya, intinya adalah belajar menulis dengan cara yang berbeda, sudut-sudut baru, cara yang efektif. Banyak.

Kemudian ditanya apa yang dicari saat jalan-jalan. Bagaimana menuangkannya ke dalam tulisan. Diminta memberikan ide liputan. Menjelaskan kenapa mengambil ide tersebut. Riset sebentar. Kemudian pergi meliput selama 3 jam.


Kota Tua pun sepi…

Saya waktu itu memilih Museum Wayang. Sayang saya tidak ingat bahwa museum selalu tutup di hari Senin. Ganti rencana. Pasar Baru, usul Mba Sica. Tapi sebelumnya saya putuskan untuk sedikit mengeksplor. Hasilnya? Tak terlalu memuaskan. Pergi ke Pasar Baru dan mengecek apa yang bisa saya tuliskan dari pasar ramai di situ. Hmmm, tidak terlalu memuaskan juga. Apa dan bagaimana konsep magang dan menulis di TED belum sepenuhnya saya tangkap.

Kembali ke kantor, hati saya lumayan ciut (terutama karena efek macet jalanan di Kuningan). Wow, baru hari pertama. So, after field-report, diestimasikan saya punya 7 bakal calon tulisan yang bisa ditulis. Target tulisan di minggu pertama adalah menulis 5 artikel. Ok, I can (only hope I can) do it. Diputuskan juga kalau selanjutnya saya akan ngantor lagi di hari Rabu.

Anyway, then day one was concluded. Oh well, isn’t this internship getting interesting? An eventful day concludes pretty much the first day. I may look nervous though, I always am on my first day of everything.

23 Juli 2013. Minggu 1 Hari 2: Turun ke lapangan, let’s have a feast!

Yap, tujuan hari ke dua adalah menilik ulang apa yang bisa saya sedot dari dua tempat yang akan menjadi bahan tulis saya untuk minggu pertama ini. Kota Tua dan Pasar Baru adalah target saya di hari itu. Saya ajak Ina supaya tidak bosan di jalan.

When I travel, less people is fun, solo is even more, but a companion is pretty much welcomed, especially when it’s TTM girls :p

Di Kota Tua, akhirnya saya sukses mengunjungi Museum Wayang. Laporan jalan-jalannya bisa di baca di tulisan Museum Wayang: Cinta a la Romeo Juliet & Wayang Segede Transformer.

Then, next is Pasar Baru. We had a feast! Karena saya ingin menulis tentang jajanan di pasar tertua Jakarta ini, maka saya dan Ina pun gantian jajan dan makan di Pasar Baru! Heheheh…


Mari jajaaaaan!

Hasil jajan saya adalah dua artikel toplist berikut: 5 Jajanan Pembatal Puasa dari Pasar Baru dan 5 Yang Segar Buat Buka Puasa di Pasar Baru. Dua artikel ini ditulisnya di hari ke tiga. Kendalanya? Fast-forward to Day 3.

24 Juli 2013. Minggu 1 Hari 3: Memasak belanjaan. Jeng-jjeng.

Meminjam istilah yang sering digunakan Mba Sica, memasak belanjaan adalah tahapan terpenting setelah belanja.

Esensi dari observasi lapangan adalah mengamati dan mendapatkan objek tulisan. Ini adalah tahapan yang dimaksud belanja oleh Mba Sica. Bonus dari belanja adalah kadang-kadang ada cerita lain yang tidak direncanakan untuk dibeli tapi kemudian terbeli. Maksudnya adalah saat turun ke lapangan ternyata ada perihal tak terduga yang walaupun bahannya masih mentah, bisa jadi tulisan juga.

Kemudian tentu saja proses yang paling penting setelah belanja, ya memasak belanjaannya. Dengan kata lain, menulis hal-hal yang didapat saat belanja. Riset dan kemudian mengambil sebuah sudut pandang dan gaya tulis. Terdengar mudah? Atau justru sulit?

Bagi saya sih sulit. Saya termasuk orang yang hobi belanja tapi tenaga untuk langsung memasak itu biasanya luntur di tengah jalan, jadinya belanjaannya banyak diabaikan begitu saja. Hasilnya? Belanjaannya membusuk.

Itulah yang saya pelajari di hari ke tiga ini. Buru-buru memasak belanjaan, supaya tidak membusuk begitu saja. Saya diminta untuk menulis satu artikel dalam setengah jam. When the mood strikes, I guess it will be an easy deed, but to have the mood strikes in that limited time is not an easy feat.

Saya bukan penulis cepat, saya penulis atas dasar mood. Salah satu kebiasaan yang harus saya ubah tampaknya. Menulis perihal traveling apalagi hasil ‘turun lapangan’ bukan perkara mudah untuk saya. Banyak melamun dan hilang fokus saat menulis adalah hal yang lumrah terjadi pada saya. Oleh Mba Sica kemudian diberitahu trik Pomodoro, aka set timer 25 menit untuk fokus mengerjakan sesuatu, kemudian 5 menit istirahat dan set lagi 25 menit untuk fokus mengerjakan hal lainnya. Begitu siklusnya. Sayangnya sampai tulisan ini turun, belum bisa saya lakukan dengan benar. I have a long-history of complicated love/hate relationship with procrastination.

Artikel pertama saya tentang Museum Wayang baru jadi setelah satu setengah jam. Plus revisi dari Mba Clara, akhirnya tulisan itu baru selesai digodok setelah lebih kurang 3 jam.

Kemudian berlanjut menulis toplist. Erh. Hal yang baru saya lakukan pertama kali. Kata Mba Sica sebenarnya menulis toplist itu tidak susah, karena cuma membuat daftar. Well, not for me.

Seenggaknya tidak buat saya saat itu. Saya kesulitan untuk menulis toplist jajanan di Pasar Baru. First, I’ve got no idea at that time what the hell kind of toplist is I am writing. Makanan? Minuman? Makanan dan Minuman? Intinya, saya kebingungan menentukan fokus toplist.

Kemudian setelah saya memutuskan untuk membagi dua, yaitu jajanan dan minuman segar, kembali lagi saya tersandung saat menulis. Kosakata saya untuk mendeskripsikan makanan dan minuman tersebut sangat minim. Jeng-jjeng. For me, it will be easier if I can describe them in English, or so I thought. Menggunakan Bahasa Indonesia untuk mendeskripsikan makanan adalah sesuatu yang belum pernah saya lakukan dalam tulisan.

Menulis tentang makanan sudah beberapa kali saya lakukan untuk Indonesiaku Community Journal, but that’s in English, dudes. Saya rada putus asa loh, mendapati bahwa saya yang sehari-harinya berbahasa Indonesia ini malah kesusahan menulis dalam Bahasa Indonesia. I am more used to write expressively in English rather than in Bahasa Indonesia. So much for being an Indonesian, huh?

Oke, jadi catatan saya untuk “menulis perihal traveling dengan baik” ada dua. Buru-buru masak habis belanja dan perbanyak kosakata Bahasa Indonesia. Noted.

Hari itu, saya berhasil memasak 3 dari target 5. Sisa dua akan disusulkan sebelum hari Senin tiba kembali. Ah, jadi punya pe-er saya. Lumayan deh buat pemanasan kuliah nanti. Magang minggu pertama pun berakhir di hari ke 3. Karena masih punya hutang 2, saya mutusin buat belanja sekali lagi ke Kota Tua dan Pasar Baru di hari Sabtu minggu pertama, dan sukses mengirim 5 tulisan untuk minggu pertama.


Dua bule yang memandangi Sunda Kelapa, saat saya berkunjung ke Menara Syah Bandar Sabtu itu…

Kesan Minggu Pertama:
Ah, ternyata meliput dan berbagi kisah traveling itu berbeda sekali!

7 thoughts on “Magang di @WegoID itu… (1)

  1. sepertinya seru banget magang di wego ya😀 saya saya programmer, cuman doyan traveling sama nulis juga, tetep aja ndak bisa magang disana~ line of businessnya beda. jadinya belajar sendiri deh hehee. kalau kata temen penulis *yang beneran bukan abal2 kayaksaya*, syarat untuk bisa menulis itu harus banyakin membaca dan latian nulis. *tentu dong* tulisan yang bagus, salam kenal ya😀

    • betul seru sekali, banyak belajarnya hehehe.. ini juga saya hoki berkesempatan magang di wego, seandainya saya masih kerja, tentu tidak bisa heheh…

      wah tapi bener loh itu kata temen penulis mas, banyakin baca sama terus menulis, walaupun tersandung writer’s block (atau malas) hehhehe..

      salam kenal juga🙂

  2. Pingback: Sepenggal Cerita di Balik Menang Kontes #ExtraordinaryTrip~! | a dreamer living the reality

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s