#traveling, saya, dan lamunan

Standard

Traveling atau jalan-jalan. Di tengah malam ini, biarlah saya sedikit melamun tentangnya.

Akhir-akhir ini, seakan tiada jalan-jalan buat saya. Tugas-tugas kuliah yang memburu, saya kambing hitamkan sebagai penyebabnya. Tadi malam ada dua teman saya yang bertanya tentang destinasi yang bisa disambangi buat libur hari ini. Ah, rupanya saya sudah dicap pejalan akut oleh teman-teman.

Saya rindu perjalanan baru, bertemu dengan yang baru, dan merasakan kecanggungan atas kebaruan pengalaman.

Kemarin siang (4 November 2013) kebetulan ada seminar yang diadakan di kampus, dihadiri oleh beberapa pembicara yang sudah terkenal di kalangan pelancong dalam negri, salah duanya @DuaRansel dan @TravellersID. Ke dua pembicara ini entah kenapa yang paling nyantol isi presentasinya bagi saya.

Dina dan Ryan dari @DuaRansel. Saya merasa dari apa yang mereka presentasikan menunjukkan bagaimana perjalanan mereka telah ‘membentuk’ diri mereka, terlihat dari cara-cara mereka menjawab pertanyaan dari beberapa peserta, yang mungkin sebagian besar merasa enamored dengan kehidupan mereka berdua sebagai digital nomad.

@TravellersID atau Pradikta Dwi Anthony yang mengaku traveler jarang jalan dan hobi nyinyir. Dari apa yang dibagi Pradikta saat seminar, saya menangkap sebuah sikap yang ingin menyentil perilaku dan stereotipe tentang traveling itu sendiri. Menarik.

Okelah, lantas sebenarnya dalam pos saya kali ini, sebenarnya apa yang ingin saya bicarakan? Traveling bagi saya adalah ke mana kaki ingin menjejak pergi dan jiwa raga siap menemani, entah ke mana pun itu; dan dalam perjalanan ini ada perjumpaan, entah dengan apa dan siapapun itu, yang ketika melangkah pulang ke mana pun, ada cerita yang membekas, seperti gurat tawa dan goresan luka.

Bagi saya traveling adalah proses sebuah kisah, yang mungkin tidak tertulis, tapi tercatat di dalam hati atau membekas pada fisik. Dari traveling banyak sekali yang saya dapatkan, dan sayangnya sedikit sekali yang mampu saya berikan.

Aksi give-back yang bisa saya berikan hanyalah beberapa momen cerita traveling saya di blog ini. Namun, yang miris bagi saya akhir-akhir ini adalah melihat bagaimana maraknya pejalan yang melakukan traveling ke berbagai destinasi–sebut sajalah yang eksotis karena pasti selalu menarik untuk dikunjungi–dan tampaknya minim sekali yang menyadari dampak kehadiran mereka di destinasi-destinasi tersebut.

Bukan ceramah yang ingin saya lakukan, bukan juga celotehan bak saya seorang pejalan budiman yang hanya datang dan pergi seperti angin yang tak meninggalkan jejak selain kesejukan… Ah, tapi hati ini berandai bahwa kata toleransi sebagai sesama pejalan bisa diterapkan dengan selayaknya; atau andai kata ego tidak tinggi hanya demi mengantongi pengalaman jalan-jalan ke berbagai destinasi; atau andai potensi destinasi wisata tidak menjadi lahan eksploitasi kapitalisme yang terbaru; atau andai tanah pertiwi diperlakukan tidak bagai ‘habis manis sepah dibuang’; atau… entahlah, ini hanya sebuah lamunan.

2 thoughts on “#traveling, saya, dan lamunan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s