#Senyap – Realitamu, Realitaku?

Standard

Senyap (The Look of Silence)

  • Language: Indonesian/Javanese
  • Year Released: 2014
  • Director: Joshua Oppenheimer
  • Starring: Adi Rukun

  • Realitamu, Realitaku?

    Tanggal 10 November 2014 adalah tanggal yang dipilih untuk meluncurkan film yang berjudul Senyap (The Look of Silence) di Indonesia. Tanggal ini juga mempunyai makna sebagai Hari Pahlawan di negeri ini. Saya rasa ada sesuatu yang ingin disampaikan dengan pemilihan tanggal ini. Siapa itu pahlawan? Yang membela negara? Selepas menonton film ini, mungkin timbul pertanyaan-pertanyaan baru tentang artian pahlawan dan membela negara itu sendiri.

    Film besutan Joshua Oppenheimer ini adalah pasangan dari Jagal (The Act of Killing). Jujur, bagi saya film yang ke dua lebih menarik daripada yang pertama. Benar, film pertama itu menampilkan sesuatu yang cukup sulit untuk dibayangkan, kebrutalan absurd dan ketidakmanusiawian yang mencengangkan. Senyap pun hampir sama, namun dengan nada yang lebih kalem, menawarkan harapan yang tidak muncul di Jagal, banyak adegan yang lebih menyentuh hati.

    Bila Jagal fokus pada para penjagal yang masih belagak dan berkuasa di negeri tercinta ini, maka Senyap adalah tentang penyintas, yang ingin memulai rekonsiliasi, yang ingin memaafkan bila ternyata ada yang meminta maaf, tentang hidup berdampingan sebagai sesama manusia. Tapi tidak segampang itu semua terjadi. Tidak bagi Adi Rukun, tokoh utama Senyap. Pergulatan batin dan beban moral yang dia alami bukanlah sesuatu hal yang bisa saya ungkapkan dengan kata. Hal yang benar terjadi ada di sana. Ada sebuah kenyataan yang terjadi dalam hidup Adi Rukun dan keluarga, namun kenyataan ini berada di luar realita hidup saya.

    Curhat sedikit, ya. Sebenarnya, saya adalah orang yang cukup jauh dari tragedi ataupun dampak 1965. Entah mungkin di kampung halaman saya sama sekali tidak terjadi huru hara 1965, dan keluarga saya aman-aman saja, atau memang tidak ada pemaksaan untuk menonton film G30S/PKI seperti yang dialami banyak orang, atau memang saya punya memori selektif sehingga memori traumatis dari Tragedi 1965 tidak saya simpan. Atau mungkin keluarga saya, sama seperti banyak keluarga lainnya, memang *memilih* untuk bungkam, tidak berbicara tentang tragedi itu? Buat apa, toh sudah berlalu? Mungkin saja begitu mentalitas yang ada di keluarga saya. Namun, entahlah. Yang saya ketahui pasti adalah posisi saya yang detached, jauh dan tidak terhubung dengan Tragedi 1965. Setidaknya saya tidak terhubung secara langsung dengan Tragedi 1965 ini, baik dengan yang menjadi korban rezim maupun si penguasa dan antek rezim tersebut.

    Kembali lagi pada kisah Adi Rukun. Ada satu adegan yang tepat menohok saya. Adegan ini terletak hampir di penghujung film, ketika Adi mendatangi salah satu penjagal, dan penjagal tersebut bercerita tentang ritual meminum setidaknya dua gelas darah korbannya, supaya tidak gila maksudnya. Anak dari penjagal ini tersentak mendengar pengakuan dari ayahnya tersebut. Adegan tersebut menunjukkan bagaimana orang yang terdekat sekalipun, bisa jadi merasakan hal seperti saya, tidak terhubung dan jauh dari realita para pelaku, apalagi para korban. Di mana para anggota terdekat pelaku hanya tahu realita yang ingin mereka ketahui saja, tidak berusaha untuk tahu lebih lanjut. Hanya menerima pengetahuan yang disodorkan pada mereka begitu saja, tidak bertanya-tanya lagi. Hingga kemudian ketika realita dari si korban menyenggol realita hidup mereka, barulah mereka memiliki kesadaran, bahwa pengetahuan bukan milik sepihak saja. Bahwa realita, kenyataan hidup, tidak sama satu dengan yang lainnya, namun bisa jadi beririsan, bersinggungan. Mudahnya, saya ingin bilang kalau selama belum menjadi masalah saya, maka tidak akan menjadi masalah bagi saya. Bahwa putih bagi saya bisa jadi hitam bagi anda. Bahwa empati timbul tercipta ketika realita mereka juga terpaut di dalamnya.

    Masalahmu ya urusanmu, kecuali kamu bawa-bawa aku ke dalam masalahmu, maka aku punya masalah, tapi denganmu.

    Di dalam Senyap, mudah dilihat bahwa simpati itu hanya tataran atas, di bibir saja, lips service. Kemudian, apa guna kasihan kalau tidak berbuat sesuatu untuk melakukan perubahan? Apa guna maaf melintas di bibir kalau kelakuan tidak mencerminkan maaf itu sendiri? Ada begitu banyak pengacuhan yang dilakukan oleh pelaku (baik pelaku langsung maupun pelaku jarak jauh) terhadap korban. Yang mereka tahu dan ingin tahu hanyalah realita hidup mereka. Siapalah itu korban, selama bukan mereka korbannya? Setidaknya begitu yang saya lihat dari penyangkalan-penyangkalan para pelaku yang dimunculkan dalam Senyap. Tidak ada penyesalan, karena mereka hanya melakukan apa yang saat itu mereka pikir harus dilakukan. Mereka bersikukuh pada arogansi mereka untuk tidak merasa bersalah, karena merekalah pahlawan, dan itulah yang menjadi alasan abadi mereka. Mungkin dengan alasan seperti inilah mereka baru bisa menjalankan hidup dengan tenang setelah tangan berlumuran darah seperti itu. Langsung, maupun tidak.

    Menonton Senyap ini, bukan hanya menampar saya dan keacuhan saya terhadap Tragedi 1965, namun juga mengingatkan pada suatu kabar yang beredar di internet tentang foto meme yaitu ini dan ini. Terkesan remeh membandingkan sesuatu sebesar Tragedi 1965 dengan meme di internet? Menurut saya tidak. Karena tidak bersentuhan langsung, maka kita tidak merasa sedang berhadapan dengan manusia juga, jadinya bisa semena-mena, bisa sekadar peduli saja, atau justru, mengapa peduli pada orang yang bahkan kita tidak kenal dan tahu secara langsung? Bagaimana bisa merasa kalau kita adalah seorang pelaku atau penindas? Apa lagi karena jauh dan tidak berhubungan langsung.

    Saya tidak tahu maksud Oppenheimer mengangkat Tragedi 1965, mungkin niatan dia baik, ingin memberi suara pada yang tidak bersuara dan menunjukkan realita yang berbeda pada orang-orang yang realitanya beririsan atau memang tidak beririsan dengan Tragedi 1965. Senyap memberi saya lebih banyak renungan dan pertanyaan daripada jawaban, bahkan tidak hanya tentang Tragedi 1965 namun juga hidup keseharian.

    Apa realitamu- mereka, bukanlah realitaku- kita? Mari dipikirkan seksama, karena jawabannya bukan hanya iya atau tidak. Dan lantas, setelah ini mau ke mana?

    2 thoughts on “#Senyap – Realitamu, Realitaku?

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s