Anekdot: Ceruk di Pantai dan Tuhan

Standard

Alkisah, ada seseorang yang disebut saya. Saya ini orangnya selalu penasaran dengan sosok yang dimuliakan manusia sebagai pencipta-Nya. Kata Tuhan adalah alias yang digunakan saya untuk menggambarkan sosok maha sempurna ini. Ketika menuju usia dewasa, saya tertarik untuk memahami Tuhan lebih lanjut dan berpikir untuk mempelajari teologi. Suatu sore, saya mampir ke rumah guru agamanya. Kemudian, saya bercerita pada guru ini tentang keinginannya untuk belajar teologi.


“Saya ingin sekolah teologi pak. Kayak bapak. Menurut bapak bagusnya gimana?”

Guru agama itu bertanya balik pada saya, “Pernah ke pantai?”

Saya bingung dengan pertanyaan yang terdengar super-random seperti itu, tapi karena memang pernah ke pantai, saya mengangguk.

“Pernah main pasir di pantai?”

Saya kembali mengangguk.

“Nah, bapak mau cerita. Dulu ada anak kecil yang main di pantai.”

Dalam hati, saya makin bingung kenapa bapak ini malah bercerita tentang anak kecil main di pantai. Memang kalau sedang di kelas bapak ini biasa mengajar dengan bercerita, jadi saya diam dan mengikuti saja arah percakapan tersebut.

“Anak ini menggali sebuah ceruk di pasir di pinggir pantai. Terus dia ambil air laut pakai tangannya, dan dipindahkannya air laut ke dalam ceruk itu. Menurutmu, apa yang terjadi?”

Dengan kening berkerut saya menjawab bingung. “Gimana ya, pak? Airnya diserap pasir, dong?”

“Nah. Anak itu melihat hal yang sama. Terus dia ambil air lagi untuk mengisi ceruk itu. Masih saja ceruk itu tidak bisa menampung airnya. Si anak kecil ini terus berusaha. Dia mau mindahin laut ke dalam ceruk itu. Menurutmu?”

Sambil berkenyit, saya menjawab, “Ya nggak mungkin dan sia-sia sih, pak. ‘Kan airnya pasti akan diserap sama pasir mulu. Nggak mungkin bisa ditampung sama ceruk pasir itu. Apalagi selaut-lautnya.”

“Kalau bapak bilang ceruk itu otak manusia dan laut itu adalah Tuhan, kamu masih ingin belajar teologi?”

Saya diam dan berpikir. Hm. Saya rasa belajar teologi pun tidak akan membuat saya lebih memahami Tuhan dari yang diinginkan.

Catatan:
Gegara menulis postingan tentang sikap pro-LGBT sebelumnya, saya kemudian teringat dengan cerita di masa SMA ini. Cerita di atas berdasarkan percakapan saya dengan guru agama di SMA. Tentu kejadian persisnya saya sudah tidak ingat, namun esensinya ya cerita di atas itu. Oh iya, ini guru agama yang berbeda dengan guru agama di postingan sebelumnya. Omong-omong, cerita dari guru saya di atas tentang anak di pantai ini yang membuat saya tidak jadi belajar teologi. Rasanya dari analogi guru agama saya itu, malah kalau saya belajar teologi saya sedang berusaha mengkotakkan (mencerukkan!) kebesaran Tuhan. Ini menjadi pengingat posisi saya dengan Tuhan. Terima kasih banyak, pak A!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s