Saya dan Sikap Pro-LGBT

Standard

Saya selalu, sepanjang ingatan saya, pro dengan keberadaan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender)[1], walaupun tidak pernah mengambil tindakan konkrit dan khusus untuk menyuarakan sikap saya ini. Dengan postingan ini (dan satu postingan lain yang masih ditulis), saya ingin turut bersuara atas sikap saya. Beruntungnya saya diberi kehebohan lain saat isu ini sedang panas-panasnya dibahas, sehingga kini saya sudah lebih tenang dalam bersuara :v.

Saya punya teman yang membuka usaha salon ala kadar di rumahnya. Kadang dia memilih untuk bekerja di salon milik orang lain yang lebih mewah. Dia ini sebenarnya teman dari Mami. Saya ingat dulu pertama kali berkenalan dengannya itu sekitar masa saya SMP. Kala itu saya bandel-bandelnya dan memilih mengubah gaya rambut sebagai bentuk ekspresi kebandelan. Jadi, perkenalan saya dengan teman ini adalah ketika Mami mengajak untuk potong rambut di rumahnya. Teman saya ini cantik, hobinya dandan, rambutnya panjang, badannya tinggi, berlengan kekar, suaranya serak seksi, kadang kalau bicara suka lupa difilter saking blak-blakan. Orangnya baik, walaupun kelihatannya jutek dan judes. Kalau dia yang motong rambut saya, biasanya memuaskan karena bisa diajak berdiskusi tentang model yang saya inginkan, dan memang bagus sih hasil potongannya.

Dedek. Itu nama panggilannya. Bencong salon adalah julukan kasar yang diberikan orang-orang padanya. Julukan waria juga sering tersemat padanya. Dia terima-terima saja dengan berbagai julukan itu. Sudah cuek mungkin, ya. Saya ingat dia sering menyebut saya tomboy, karena saya memang tomboy. Kadang sebutan tomboy disuarakan dengan nada seakan tidak menerimanya, mungkin karena identitasnya. Namun, biasanya dengan nada ceria dan menggoda ia membahas ketomboyan saya terutama ketika menyayangkan saya yang selalu memilih gaya rambut laki-laki–pendek, cepak, pokoknya bukan rambut panjang terurai yang selalu identik dengan rambutnya perempuan. Terkadang saya pun menggoda balik hobinya untuk bersolek itu. (Diam-diam, saya kecewa ketika akhirnya dia melakukan modifikasi wajah dengan bantuan suntik silikon. Ia lebih cantik tanpa silikon-silikon bertengger di tulang pipi, dagu-belah, dan bibirnya.)

Dedek adalah teman transgender pertama saya. Sebelum dia, persinggungan saya dengan transgender adalah ketika bertemu dengan mereka yang mengadu nasib di kota, para lelaki yang berdandan layaknya perempuan, entah memang transgender karena mentalitas atau kebutuhan ekonomis atau bukan, saya tidak tahu. Berteman dengan Dedek, dan mendengarkan cerita mami yang memang salah satu teman dekatnya Dedek, membuat saya tahu cerita macam-macam, seperti hubungan Dedek dengan suaminya. (Iya benar, suaminya. Saya tidak yakin pernikahan mereka legal, juga tidak yakin Dedek sudah mengubah kolom jenis kelamin dengan opsi perempuan.)

Suatu hari, saya pernah mewawancarai Dedek untuk tugas sekolah, mengenai agama (Katolik) dan perihal homoseksualitas (saat itu belum mengerti tentang transgender). Saya bahkan mewawancarai Kepalah Sekolah SMA saya, yang juga pernah menjadi guru agama di kelas, untuk mencari tahu perihal tersebut. Sayangnya, saya lupa sama sekali hasil tugas saya itu apa dan tidak bisa menemukan salinan tugas saya. Saya tidak ingat percakapan dengan guru agama saya itu. Yang bisa saya sebutkan, saat itu guru agama saya tidak menanggapi pertanyaan saya dengan sikap keras anti-LGBT. Tapi saya ingat betul sepotong percakapan dengan Dedek.

Siang itu, di lantai tegel di rumahnya kami duduk dan berbicara tentang homoseksualitas. Lebih tepatnya sih saya bertanya hal-hal yang membuat saya penasaran tentang kehidupannya dan dia menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Saya ingat ketika ia mengekspresikan ketidaksukaannya pada gay maskulin (ini istilahnya Dedek, loh), yaitu pria yang menurutnya munafik karena tidak jujur dengan diri mereka sendiri, tidak seperti gay feminin, yang seperti dirinya, blak-blakan menunjukkan orientasi seksual mereka. Itu membekas pada ingatan saya lebih daripada isi wawancara lainnya, sampai sekarang.

Saya memang sudah lama tertarik dan penasaran dengan isu LGBT. Sejak dulu, bahkan tanpa saya sadari penuh, saya punya ketertarikan khusus dengan isu ini. Saya beruntung, sih. Walaupun berasal dari keluarga yang cukup konvensional dan kolot untuk hal-hal tertentu (seperti perilaku gender yang normatif), saya selalu “diberi” kebebasan untuk berpikir dan berekspresi sesuka saya. Well, tentu kebebasan saya masih dibingkai dalam batas-batas kewajaran. Dan, kebebasan saya ini bukannya tanpa embel-embel, seperti “aneh,” yang disematkan pada karakter saya. Tapi, tidak pernah ada larangan dalam kadar yang berlebihan, seperti pengucilan, pemukulan atau aksi-aksi kekerasan mental dan fisik lainnya ketika saya mempraktekkan kebebasan berpikir dan berekspresi. Di dalam keluarga saya tidak ada sikap yang menolak LGBT secara khusus. (Yah, bisa saja sikap demikian sebenarnya bukan simpati, namun lebih pada tidak bersinggungan langsung, sehingga tidak peduli.) Namun intinya, secara tidak langsung dan tidak sengaja, keluarga saya menyediakan ruang untuk berpikir, berekspresi, dan bahkan berinteraksi dengan isu dan orang-orang yang dicap dalam kelompok LGBT.

Lantas, bagaimana dengan agama saya? Apakah agama melarang saya untuk berpikir, berekspresi dan berinteraksi dengan LGBT? Saya beragama Buddha dan, jujur, saya memang bukan umat beragama yang mendalami ajarannya dengan baik dan taat. Keluarga saya juga bukan penganut taat. Pergi ke vihara atau klenteng bukan suatu keharusan, tapi sudah seperti ritual kebudayaan–adat dan tradisi yang turun temurun. Daripada dedikasi khusus terhadap Tuhan, saya melihatnya justru sebagai dedikasi yang lebih diutamakan pada leluhur. (Sebelum saya melanjutkan, tolong jangan menghakimi atau melabeli keluarga saya berdasarkan pernyataan di atas. Itu murni pendapat saya pribadi dan tidak menjadi representasi utuh bagi anggota keluarga saya lainnya.)

Saya jarang pergi ke vihara. Saya jarang membakar garu untuk sembahyang. Saya pernah menolak untuk mengikuti sekolah minggu di vihara, karena saya merasa sedang tidak ikhlas dan berpikir bahwa sia-sia saja pergi untuk belajar tentang Dharma dengan perasaan demikian. Tapi, terlepas dari keacuhan saya dalam mempraktekkan identitas keber-agama-an saya, saya tidak pernah merasa jauh dari-Nya. Saya setiap hari berdiskusi dengan-Nya. Saya selalu punya pertanyaan untuk-Nya, dan Dia selalu akan memberikan jawaban dengan cara-Nya. Memang tidak semua pertanyaan saya sudah dijawab, banyak sekali yang masih belum dan membuat saya masih bergulat dengan-Nya. Tapi, mungkin, mungkin inilah yang membuat saya bisa bersimpati dan mengambil sikap pro terhadap isu LGBT; karena saya punya ruang untuk berdiskusi tentang LGBT secara personal dengan-Nya.

Apa sih yang membedakan identitas saya dari orang-orang yang dicap LGBT itu? Pertama, utama dan paling menonjol, adalah orientasi seksual. Tapi lebih dari itu? Saya menemukan bahwa yang dicap LGBT itu ya sama saja dengan saya. Sama-sama manusia. Begitu sampai pada kesimpulan itu, saya tidak menemukan alasan lain untuk tidak menjadi seseorang yang pro-LGBT. Ketika saya bersenggolan dengan agama pun, tidak ada hal dalam ajaran Buddha, yang saya tahu, membenarkan saya untuk menolak, membenci dan mengutuk manusia lain karena orientasi seksual yang berbeda dengan yang pada umumnya. Yang saya ingat, tahu dan masih berusaha pahami dari ajaran Buddha, adalah sikap welas asih pada setiap makhluk hidup, tanpa pandang bulu, tanpa standar ganda. Tentu dalam prakteknya saya tidak akan bisa menjadi seseorang sesempurna Buddha dalam bersikap welas asih. Namun, saya tidak mengerti bagaimana menolak, membenci dan mengutuk manusia lain karena orientasi seksual menjadi sesuatu yang menunjukkan pengamalan sikap welas asih yang diajarkan Buddha.

Saya tidak ingin menggurui melalui agama saya, pengalaman saya dan cara saya dalam menyikapi LGBT. Menurut saya, agama itu hal yang personal. Sebagaimana perihal perselangkangan. Beragama itu pilihan pribadi yang harus dipertanggungjawabkan di bumi dan akhirat. Demikian pula praktek seksual. Berdiskusi dengan-Nya pun adalah hal yang personal. Pun juga, ketika seseorang berhubungan seksual. Eits, bentar dulu, supaya tidak terjadi kesalahpahaman, saya tidak sedang membandingkan praktek keber-agama-an dengan perilaku seksual ya. Saya ingin menekankan bahwa seksualitas atau orientasi seksual itu urusan personal masing-masing orang, sebagaimana hubungan manusia dengan pencipta-Nya.

LGBT itu orientasi seksual yang sifatnya personal. LGBT itu bukan gaya hidup, sebagaimana sering dipersepsikan. Bukaaan. LGBT bukan gaya hidup yang bisa gonta-ganti sesuai tren. Dan, LGBT bukan tindak seksual yang tidak disetujui oleh dua belah atau lebih pihak (misalnya perkosaan), atau merupakan tindak seksual hasil persetujuan yang ambigu (dubious consent, misal dengan anak-anak yang dianggap belum mampu membuat keputusan dengan mandiri, atau tindak seksual yang dilakukan dalam keadaan mabuk atau setengah sadar).

Pada intinya, saya menulis ini untuk bilang, jika kamu anti-LGBT, sudahkah kamu memberi ruang untuk mengerti, berdiskusi, tentang LGBT? Hal mendasar apa yang membuat kamu anti-LGBT? Yang diantikan itu sebenarnya apa dan kenapa? Bagi saya, justru aneh ketika bisa menolak, membenci atau mengutuk sesuatu dengan mutlak, tanpa memberikan kesempatan lain untuk berdiskusi secara personal–dengan diri sendiri, orang lain, -Nya–untuk tahu lebih lanjut tentang hal yang dibenci tersebut. Pepatah sering bilang, tak kenal maka tak sayang. Ini ada benarnya, menurut saya. Bagaimana bisa sayang, kenalan saja ditolak?

—————
[1] Sebenarnya masih ada istilah Queer, dan istilah-istilah lain yang menjadi cap bagi orang-orang yang perilaku seksualnya tidak normatif, namun cukuplah saya menulis ini dengan menggunakan istilah LGBT yang lebih umum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s