Orang Tua Bukan Segalanya.

Standard

Bagaimana bisa? Wah, durhaka nih yang menulis.

Mungkin di antara kalian, ada yang berpikir demikian begitu membaca judul tulisan ini?

Tidak apa. Sudah biasa saya dianggap durhaka.

Hah? Sudah biasa?

Iya. Teman-teman yang sudah mengenal baik saya, pasti tahu hal ini. Saya bukan seorang anak baik. Saya tidak bisa menjadi sebagaimana banyak orang menginginkan dan berusaha menjadi anak baik dan bisa membuat orang tuanya bahagia.

Saya bukan anak yang baik. Saya bahkan selalu menyebutkan bahwa kedurhakaan saya pasti menjadi tiket untuk masuk neraka terdalam dan mendapat ruangan di sebelah Hitler. Iya, pelaku genosida yang terkenal itu. Yang kumisnya tampak seperti tombol stop itu.

Banyak teman yang tertawa mendengar argumen saya itu. Padahal, di balik kalimat yang sering saya ucapkan dengan nada guyon itu, sesungguhnya saya serius. Saya tidak pernah berharap untuk masuk surga. Menurut segala ajaran kehidupan (baca: agama) yang menyebutkan untuk menghargai orang tua sendiri melebihi segalanya, saya tahu, surga bukan tempat bagi saya.

Sebelumnya, saya ingin berbagi alasan kenapa saya menulis tentang ini. Barusan di Facebook saya muncul sebuah potongan screenshot hape atas postingan Tumblr yang menyinggung perihal bunuh diri. Di screenshot itu (tidak akan saya share di sini) ada seorang ANONIM yang bertanya pada, sebut saja, akun BLABLA:

“What happens once you kill yourself? Because I’m ready to go.”

Bisakah kamu menebak apa jawaban dari BLABLA?

BLABLA menuliskan jawaban panjang, memenuhi hampir 3 potongan screenshot, berisi sebuah perandaian. Si ANONIM yang bunuh diri, akan menemukan kenyataan bahwa ia melukai orang-orang terdekatnya.

Jawabannya sangat deskriptif. Si ANONIM¬†akan membuat sang ibu menderita karena anaknya, buah hatinya, yang disayangnya sedari kecil, mati di hadapannya. Ibunya akan menangis tanpa henti dan tidak ingin makan hingga menjadi kurus dan semakin kurus setiap harinya. Ia akan membuat sang ayah menderita karena anaknya, jagoannya, yang dijaganya, mati di hadapannya. Ayah yang bersedih hati hingga harus berhenti bekerja dan menjadi alkoholik. Ia akan membuat teman baiknya menangis histeris di kelas karena merasakan kehilangan teramat dalam, dan meninggalkan perasaan bahwa “harusnya mereka bisa menghentikanmu dari melakukannya”.

Andai-andai yang memilukan; dan bisa saja menjadi kenyataan bila si ANONIM benar-benar meneruskan niatnya untuk bunuh diri.

Ya. Lantas, apa hubungannya dengan tulisan ini?

Postingan tersebut membuat saya teringat satu titik di masa lalu saya. One time, years ago, I was ready to go, too. Saya pernah berada di posisi yang sama dan mungkin memiliki perasaan yang sama dengan si ANONIM ketika membuat postingan tersebut.

Hanya saja, kalimat terakhir jawaban si BLABLA adalah

And so you killed yourself

but you killed everyone else around you too.

Ini membuat saya kecewa. Saya kecewa karena bunuh diri dianggap bersikap egois, dan “hei, tolong pikirkan orang-orang lain yang akan kamu tinggalkan” seakan semua pelaku bunuh diri melakukannya untuk kesenangan pribadi tanpa bergulat dan memikirkan semuanya sebelumnya. Hey, you don’t know any better, and won’t know for sure, so hold your horses.

Dan, yang utama dan menjadi alasan saya menulis curhatan ini adalah, penekanan BLABLA pada “orang tua” yang akan ditinggalkan oleh pelaku bunuh diri.

Saya kecewa.

Dulu, alasan yang membuat saya berpikir untuk pergi meninggalkan semuanya adalah karena, secara tidak langsung, kekecewaan yang saya rasakan terhadap orang tua.

Bagaimana bisa orang tua mengecewakan seorang anak? Bukan sebaliknya, anak yang selalu mengecewakan orang tua? Ya. Saya tahu saya pasti mengecewakan mereka dengan tidak menjadi anak yang sesuai dengan harapan. Tapi, likewise, mereka pun mengecewakan saya. It’s not that they are not the best for me. They are and always will be. It’s just that they have disappointed me to the point of no turning back. Period. Tidak perlu saya ceritakan detailnya. Tidak perlu pula merasa harus simpati mendengar potongan kisah ini. FYI, we are okay (on our own crooked-way), dan bukan itu tujuan dari tulisan ini.

Postingan screenshot di atas membuat saya berpikir, bahwa beruntung banget kalau kamu memiliki orang tua yang tidak membuatmu kecewa. Bersyukur jika orang tuamu menunjukkan kasih sayang dengan cara-cara yang tidak mengecewakanmu. Bersyukurlah bila kamu bisa membalas jasa mereka dengan menjadi anak baik yang tidak mengecewakan orang tuamu.

Tapi.

Hubungan bahagia, atau hubungan macam apapun, yang kamu miliki dengan orang tuamu, belum tentu dimiliki orang lain sama persis.

Saya ingin berbagi, bahwa orang tua bisa jadi bukan segalanya untuk seseorang. Dan alasannya bisa jadi tidak akan dimengerti orang lain.

Orang tua bisa jadi bukan “keluarga” bagimu. (And, that’s okay.)

Tidak semua orang mempunyai hubungan yang baik dengan orang tuanya. (And, hey that’s okay, too. No need to be ashamed.)

Tidak semua orang mempunyai orang tua dalam makna yang konvensional.

And, that’s okay.

Tidak semua orang merasakan hal yang sama seperti saya pada orang tua. Dan, tidak semua orang setuju dengan tulisan ini.

Tell you what, that’s okay.

One thought on “Orang Tua Bukan Segalanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s