#NgocehIdentitas: Ribet Budaya, Negara, dan Bangsa

Standard

Postingan pertama 2017 kayaknya berat banget ya. Heh. Tapi enggak juga sih. Sudah lama banget mau rant soal ini, tapi nggak jadi karena saya selalu mikir, it’s not really worth the effort to rant about. Males banget kan, soalnya kepala dan hati bisa digunakan untuk hal-hal lebih produktif. Tapi.

Cukup sudah saya diam.

Diam itu bisa berarti macam-macam tergantung konteksnya. Dan ternyata, memilih diam untuk perkara begini, saya sudah melakukan pembiaran; saya sudah menolak menanggapi keberadaan orang-orang yang kelak bisa menjadi pelaku intoleransi dan menjadi racun buat hidup saya.

Membiarkan orang-orang berpikir seenak jidat di media sosial tentang perkara yang begitu hakiki: identitas, bisa jadi racun yang mengancam kehidupan pribadi saya. Repotnya lagi, perkara begini bisa mengancam kehidupan bernegara, yang harusnya melindungi seluruh rakyatnya, tanpa tedeng aling-aling.

More or less, if Indonesia become so fucked up with their tolerance for intolerance, I know I am going to be fucked both ways. I know a lot of people that I hold dearest, will be fucked both ways. Knowing history can repeat itself, this is not only a figurative speech. It could happen literally. Scary, huh.

Saya mungkin akan memilih terus diam kalau saya tidak merasa hampir semua orang lupa bahwa saya adalah minoritas. By the blood. By the religion. By the gender. Dan orang-orang ini—kadang saya kenal baik, kadang hanya sekadar nama di friendlistthey are saying intolerance things about races and religions figuratively in my face, and doesn’t really know that they did it. Unless I say something back. I’ll elaborate more on this issue later on, maybe in another post.

Mari kembali ke pada situasi yang akhirnya membuat saya jadi menulis postingan super panjang ini yang akan jadi serial ngoceh.

“Ini Indonesia Bukan Cina”

Pada 28 Januari 2017, saat saya sedang merayakan tahun baru Imlek, saat sedang scrolling news feed, ada sebuah status yang mengunggah gambar ini:

whatsapp-image-2017-01-29-at-12-27-10-pm

Apa yang membuat saya refleks tertawa melihat gambar ini? Pertama, saya sudah mendengar kalimat yang lebih kurang berarti seperti ini sejak kecil. This is a common jab to my identity as Chinese descendant. Disuruh pulang kampung ke Cina. Pfft. Kalau mudik, saya itu ke Jambi. Bukan Cina. Kedua, level ignoran dan kebegoannya.

Lalu, yang bikin reaksi saya berubah jadi pahit, adalah bagaimana status seperti ini menyebarkan dua hal tadi pada orang-orang yang punya kecenderungan pikiran yang sama dan bahwa banyak orang yang berpikiran sama dengan tulisan di atas.

Pait. Kayak hidup saya selama ini di Indonesia dan keindonesiaan saya—dan rasa cinta saya terhadap Indonesia, dan perasaan saya yang sudah menganggap Indonesia sebagai rumah sendiri—nggak ada artinya.

Pait kayak orang-orang Muslim yang sudah tinggal di Amerika Serikat bertahun-tahun dan membangun hidupnya di situ, sekarang terancam dideportasi dari tempat yang sudah dianggap sebagai rumah sendiri. Pait kayak orang-orang Suriah terusir dari rumahnya sendiri. Pait kayak orang-orang Palestina yang hidupnya terancam bahkan di rumahnya sendiri. Pait kayak orang-orang Rohingya yang tersiksa di tempat yang sudah dianggap sebagai rumah sendiri. Lihat persamaannya nggak?

Mengklaim Indonesia hanya menjadi “rumah” dan milik segelintir orang itu ignoran dan intoleran.

Saya coba jelaskan alasan dari argumen ini. Coba baca pelan-pelan.

Mari mulai dengan contoh kecil saja, dari gambar tersebut, yang juga menjadi alasan dari judul postingan ini. Saya bagi kalimat dalam gambar menjadi 3 frasa dan satu kata di dalamnya. Saya bahas satu persatu.

1. Frasa pertama: Kalo ngaku orang Indonesia

Inti kalimat tersebut adalah pada frasa orang Indonesia. Frasa ini mengacu pada beberapa identitas, seperti:

1. seseorang yang merasa menjadi bagian dari bangsa Indonesia,
2. seseorang yang memiliki identitas resmi sebagai Warga Negara Indonesia,
3. seseorang yang merupakan keturunan Indonesia

Apa beda ketiga identitas di atas? Yang satu bicara perasaan dan rasa kebangsaan. Yang kedua bicara soal negara dan kepemilikan identitas resmi. Ketiga bicara keturunan, soal garis darah. Terlihat bagaimana ketiga identitas ini berdiri atas pondasi yang berbeda, tapi mengacu pada hal yang sama: identitas sebagai orang Indonesia.

Satu dan dua itu berlaku bagi saya. Yang ketiga sedikit problematik, karena definisi “keturunan Indonesia” lebih kompleks. Ini akan lebih terang dalam penjelasan selanjutnya. Saya sendiri tidak bisa dibilang keturunan Indonesia, tetapi keturunan Cina-Indonesia. Katanya sih karena dalam darah saya mengalir darah leluhur dari Cina. Weeeeeell. Sudah nonton video ini?

2. Frasa kedua: Ngapain masih merayakan tahun baru Cina

Jelas kalau frasa ini lanjutan dari yang pertama di atas. Ditulis dengan gaya bertanya, tapi tidak diakhiri dengan tanda tanya. Bisa dua alasannya, bahwa yang mengetik lupa tata bahasa yang baik dan benar, atau frasa ini bersifat retoris, sehingga memang bukan pertanyaan untuk dijawab.

Yang jadi pokok dari bagian ini adalah tahun baru Cina. Frasa ini mengacu pada perayaan tahun baru berdasar sistem kalender atau penanggalan lunar, yang merupakan tradisi di Cina. Omong-omong, sistem penanggalan lunar ini tidak hanya merupakan budaya Cina saja. Sistem kalendar lunar juga produk budaya dari berbagai peradaban lain. Kalendar Hijriyah, misalnya, juga menggunakan sistem penanggalan lunar.

Apa sih sistem penanggalan lunar? Pembagian waktu kalendar berdasarkan pergerakan atau koordinat bulan. Ini berbeda dengan sistem penanggalan solar yang berdasarkan posisi bumi dan matahari. Wait, saya bukan ahli penanggalan, lengkapnya Google sendiri tentang sistem penanggalan ini.

Yang harus diingat di sini adalah, walaupun sama-sama menggunakan sistem penanggalan lunar, bukan berarti semua peradaban yang menggunakan sistem ini punya hitungan penanggalan yang sama. Tiap-tiap peradaban di bumi ini punya latar belakang yang berbeda-beda. Letak geografis beda, bentang alam beda, sistem masyarakat yang berbeda, maka nggak heran kalau produk budayanya pun berbeda.

Kenapa sih sistem penanggalan disebut sebagai produk budaya? Budaya itu apa sih?
Budaya atau kebudayaan itu adalah sistem atau perilaku yang menjadi pegangan kolektif dari peradaban atau kelompok sosial tertentu, termasuk produk-produknya. Hal ini tidak terbatas hanya pada hal-hal tradisional, namun juga sesuatu yang dilakukan sehari-hari dan menjadi hal yang normal bagi kelompok sosial tersebut.

Budaya adalah kebiasaan yang dibangun dan berkembang ketika seseorang tinggal dan atau mengidentifikasi diri sebagai bagian dari grup sosial tertentu. Budaya adalah produk-produk yang dihasilkan dari sistem pengetahuan grup sosial tersebut.

Budaya punya dua jenis produk, benda dan tak-benda. Contoh produk budaya tak-benda misalnya tren, sikap, perilaku, etika, adat dan tradisi, tarian, sistem pengetahuan, sistem penanggalan, dan sebagainya. Sementara produk budaya benda adalah seperti, pakaian, masakan, film, buku, dll.

Bicara budaya dan kebudayaan adalah hal-hal yang lebih luwes dan cair daripada bangsa, apalagi negara. Seseorang bisa mengemulasi, mensimulasi, mengimitasi, mengadopsi, memodifikasi—and bunch of other similar verbs really—budaya dari peradaban lain tanpa perlu merasa dia bagian dari bangsa—yang mengklaim atau menjadi asal peradaban—tersebut. Kata kuncinya ada pada kata ‘merasa’. Dan, peradaban tidak sama dengan bangsa atau negara.

Rasanya jelas kalau merayakan tahun baru Cina–atau mempraktikkan kebudayaan lain itu tidak sama dengan mengidentifikasi diri sebagai bagian dari bangsa atau negara Cina. Mari lanjut ke bagian terakhir.

3. Frasa ketiga: “Ini Indonesia bukan Cina”

Sebagai frasa penutup, ia dimaksudkan menjadi kesimpulan. Ditulis dengan menggunakan tanda kutip sebagai penegasan atau bisa jadi bentuk pengandaian. Bila ada teman-teman ahli linguistik yang ingin menjelaskan, please do!

Kalimat ini merupakan pernyataan bahwa Indonesia itu bukan Cina. Ada dua pokok yang harus diperhatikan, yaitu kata Indonesia dan Cina yang diposisikan berdampingan, dan dianggap memiliki beban makna yang sama:

1. Indonesia dan Cina sebagai negara
2. Indonesia dan Cina sebagai bangsa
3. Indonesia dan Cina sebagai budaya

Pertanyaannya, mana dari ketiga hal ini yang dimaksud dengan kata-kata di atas? Bisa salah satu, salah dua, atau ketiganya sekaligus.

Dari tadi ngomong bangsa dan negara, apa bedanya sih?
Yang disebut dengan sebuah negara, biasanya adalah suatu wilayah dengan batas-batas jelas yang dikelola secara administratif oleh sebuah organisasi resmi (pemerintah). Di dalamnya ada penduduk yang disebut sebagai warga negara, yang punya kewajibannya terhadap negara. Sebagai gantinya, hak-hak warga negara dilindungi dan dijamin oleh negara tersebut. Negara adalah salah satu konsep yang lahir di era modern. Dulu tidak ada konsep negara seperti sekarang ini, yang ada adalah konsep-konsep seperti suku, kerajaan, dan seterusnya.

Kembali lagi, kalau dibilang negara Indonesia bukan negara Cina, itu benar ya. Keduanya adalah negara yang berbeda.

Yang dimaksud dengan bangsa berbeda dengan negara, walaupun seringkali terkait. Bicara tentang bangsa, saya mengacu pada Benedict Anderson yang menjelaskannya sebagai konsep imagined communities atau komunitas terbayang.

Apa itu imagined communities? Sebuah bangsa tidak melulu identik dengan negara. Ia bukan pula milik etnis atau suku tertentu. Seperti disebut Anderson, ia adalah komunitas, dan komunitas ini terbayang, alias ia ada dan dibangun dalam imajinasi tiap-tiap anggota di dalamnya.

Sebagai contoh adalah Indonesia. Sampai dengan Hari Proklamasi pada 17 Agustus 1945, belum ada itu namanya negara Indonesia. Tapi, Indonesia ini sudah diangankan, dicita-citakan, dibayangkan oleh sekelompok orang dengan latar belakang yang berbeda-beda, jauh sebelum negara ini berdiri. Pertama kali ia tercetus secara resmi dalam Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928, yang menghasilkan Sumpah Pemuda dengan isi yang menegaskan cita-cita adanya entitas Indonesia berupa tanah air, bangsa, dan bahasa.

Bisa kamu bayangkan selama 17 tahun sekelompok orang ini berjuang mewujudkan “Indonesia” menjadi entitas resmi yang disebut negara? Setelah menjadi sebuah negara dengan batas administratif wilayah, bukan berarti perjuangan berakhir. Sekelompok orang ini harus berjuang agar orang-orang yang berada di dalam wilayah tersebut membayangkan hal yang sama: negara dan bangsa Indonesia. Supaya identitas Indonesia utuh dan solid, maka banyak hal yang dilakukan pemerintah negara Indonesia untuk membangun imajinasi tentang sebuah bangsa bernama Indonesia.

Cara negara Indonesia mengikat bangsa Indonesia adalah dengan slogan Bhinneka Tunggal Ika—berbeda-beda tetapi tetap satu. Dengan dasar negara Pancasila yang mencoba menjadi cermin dari slogan itu. Dengan frasa “dari Sabang sampai Merauke”. Dengan moto “NKRI Harga Mati”. Dengan membangun sebuah sistem bahasa yang disebut Bahasa Indonesia. Dengan membangun infrastruktur dan jaringan komunikasi di dalam wilayah-wilayahnya sehingga bisa terus merangkul anggota-anggotanya. Dan banyak hal lainnya yang membuat seluruh orang Indonesia (seperti dijelaskan di atas tentang frasa 1) percaya pada keberadaan bangsa Indonesia dan merasa menjadi bagian di dalamnya.

Nah, begitu pula dengan bangsa Cina. Dengan sejarah yang diarsipkan dengan baik, kalau kamu rajin baca, pasti tahu bahwa membangun bangsa Cina itu juga tidak kalah kompleks dengan bangsa Indonesia. Begitu pun hal-hal yang dilakukan pemerintah Cina untuk tetap menjaga kesolidan bangsa Cina.

Bicara tentang bangsa lebih ribet daripada bicara negara. Bangsa ini perkara imajinasi, hati, pikiran, rasa—bukan sekadar legalitas identitas seperti KTP dan Paspor. Terlihat jelas kan beda antara negara dan bangsa kan?

Lanjut, tentang Budaya. Seperti penjelasan di atas. Budaya itu adalah sistem atau perilaku yang menjadi pegangan kolektif dari peradaban atau kelompok sosial tertentu, termasuk produk-produknya. Ini jelas tidak sama dengan bangsa atau negara.

Bicara tentang identitas Indonesia sebagai sebuah kebudayaan harus bicara tentang sejarahnya yang panjang, yang melahirkan berbagai peradaban dalam berbagai zaman di seluruh penjuru wilayah yang disebut Indonesia. Sebagai sebuah kebudayaan, ia dibangun di atas peradaban-peradaban sosial lain yang sudah dulu ada sebelum konsep Indonesia sebagai negara dan bangsa itu ada. Seperti sudah dijelaskan di atas, bangsa Indonesia adalah satu komunitas bayangan. Dibangun dengan mengikat orang-orang, yang beda latar belakang, sejarah, dan budayanya, yang pada saat itu tinggal dalam satu wilayah negara.

Jadi, bila dulu saat Indonesia tidak ada, ada yang menyebut Cina adalah pendatang. Itu benar. Di wilayah yang sekarang disebut negara Indonesia ini memang banyak pendatang, terutama dengan alasan perdagangan. Dulu pas sejarah diajarin kaaaan tentang berbagai kerajaan di wilayah yang sekarang disebut Indonesia ini?

Nggak cuma orang-orang Cina kok yang datang dan akhirnya memilih tinggal di wilayah yang sekarang disebut Indonesia. Ada orang Belanda juga. Orang India dan Arab pun. Yang semuanya membawa kebudayaan dari peradabannya masing-masing saat pertama kali menjejakkan kaki ke wilayah yang sekarang ini namanya Indonesia. Sah saja menyebut mereka sebagai pendatang di wilayah itu. Saat itu.

Ketika “komunitas terbayang Indonesia” kemudian mewujud sebagai negara, ada dari kelompok-kelompok pendatang ini yang memilih menjadi bagian dari negara Indonesia dan merasa menjadi bagian dari bangsa ini. Adalah sikap ignoran untuk tidak mengakui itu.

3. Kata: catat

Karena posisinya di akhir, ditulis dengan font yang berbeda pula. Bisa jadi dua hal, si pembuat gambar ini namanya “catat” atau kata ini merupakan ajakan agar orang-orang untuk mencatatnya. Nggak banyak yang bisa dianalisis.

Jadi tulisan itu maunya apa?

Tulisan itu ingin bilang, kalau sudah ngaku jadi orang Indonesia, maka nggak perlu merayakan tahun baru Cina, karena Indonesia tidak sama dengan Cina. Begitu kan logikanya?

Padahal nggak semudah itu kalau melihat beban makna yang ada dalam tiap frasanya. Siapapun yang sudah ngaku jadi orang Indonesia (3 identitas terkait: bangsa, negara, keturunan), maka nggak perlu merayakan tahun baru Cina (sebuah produk budaya dari peradaban Cina), karena (negara, bangsa, dan budaya) Indonesia tidak sama dengan (negara, bangsa, dan budaya) Cina. Tuh. Njelimet. Ribet.

Jelas banget statement lalai seperti yang tertera dari gambar ini ditulis orang-orang yang ingin melahirkan dan menyebarkan intoleransi, dibagikan di media sosial oleh orang-orang yang berpihak pada intoleransi.

Padahal Indonesia jelas-jelas bukan sesuatu yang dibangun di atas hal-hal yang seragam. Sebaliknya, pondasi keindonesiaan, baik bangsa, negara, dan budaya, lahir dari keragaman.

Salah satunya adalah keberadaan keturunan Cina-Indonesia, yang memegang kebudayaan Cina yang sudah beradaptasi dengan konsep Indonesia. Tahu yang namanya kebudayaan Cina-Peranakan? Nggak? Google deh.

Nggak heran kan melihat gambar di atas saya jadi pait? Saya punya cerita lucu. Ada satu grup Whatsapp saya yang heboooooh banget saat kasus penistaan Ahok rame dibahas dan menghasilkan Aksi 411 dan Aksi 212. Ada beberapa kenalan saya di grup itu yang anti dengan Ahok dan menunjukkan sentimen yang sama dengan gambar di atas.

Lucunya. Sebagian di antara mereka kenal saya. Memang sih saya jarang nimbrung di grup, jadi mungkin mereka ‘lupa’ saya ada. Ketika saya menyahut beberapa postingan yang saya temukan sebagai hoax dan tendensius-intoleransi, ada salah satunya yang nyeletuk dengan kata-kata lebih kurang: “Eh ada Ellen, nggak jadi deh. Kalau ada kamu saya nggak mau bahas ini.” Loh. Kan lucu. Saat itu saya sampai tertawa terpingkal gara-garanya.

Buruknya media sosial adalah ia membuat orang-orang (A) tidak perlu tatap muka langsung dengan orang-orang lain (B) saat menyampaikan opininya. Ini menghilangkan efek pada A yang tidak perlu melihat langsung efek opininya pada si B. Apa jadinya? Asal njeblak itu hal yang lumrah, karena orang-orang kayak A akan merasa ucapannya tidak berefek, tidak memiliki konsekuensi pada orang lain kayak B—ataupun kalau berefek, well, mereka tidak melihatnya langsung (“Siapa suruh baca postingan saya?” – A).

Dan B? Orang-orang kayak B bisa jadi orang-orang yang tidak dikenal A—strangers, aliens, whatevers—ataupun kalau A mengenalnya, setidaknya nggak melihat ekspresinya si B. Atau malah tidak kebayang wajah si B sama sekali.

And it’s easy to not feel guilty after that. Mudah untuk merasa bahwa ucapan dan pikiran yang ignoran itu punya dampak bagi orang lain. Jelek pula dampaknya.

Bye.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s