Hari Seperti Biasanya..

Standard

Hari ini seharusnya normal. Aku bangun menjelang siang dengan hati yang lebih ringan. Mata yang lebih segar setelah semalaman menatap layar laptop yang berpendar. Entah apa yang kulakukan, kupikirkan semalam, semua mengabur, melebur dalam tidur dengan mimpi yang mendebarkan. Aku tahu tidurku tidak lelap. Mimpi bagiku bukan bunga tidur yang menyenangkan. Ia adalah jelmaan hati yang resah.

Suara jam berdetak monoton dari dinding tempatnya bertengger. Aku bangun dengan pikiran yang tenang, tetapi tahu ketenangan itu hanya untuk sejenak. Tidak lama lagi ia pasti mengusut, seperti kabel earphone yang selalu menemukan caranya sendiri untuk mengusut.

Hari ini dimulai dengan normal, bahkan bisa dibilang sedikit lebih baik dari normal. Aku bangun tanpa perasaan ingin terus bergelung di balik selimut. Aku bangun tanpa rasa enggan menatap matahari ataupun berjumpa makhluk hidup selain semut di lantai kamarku, atau si nyamuk bandel yang bersembunyi di bayang-bayang dalam kamar.

Hari ini lebih baik dari biasanya. Normal. Ya. Aku berbaring dengan mata tertutup. Sejenak saja. Tanganku meraba-raba kasur, mencari bentuk persegi panjang yang begitu familiar dengan telapakku. Tidak berhasil menemukannya, aku mendengus. Menyerah. Sejenakku sudah kadaluarsa. Aku harus bangun, menemukan ponselku, dan mencari tahu pukul berapa saat ini.

Silau layar ponsel membuatku berkedip. Oh. 9.47. Masih pagi. Rekor. Hari ini tidak tidur melebihi jam 12. Ponsel kutaruh kembali di kasur. Aku berdiri dan bergerak menuju meja yang berantakan. Buku-buku yang sengaja kutaruh di meja, sebagai pengingat bahwa aku harus membaca mereka, hanya menumpuk di salah satu sudutnya. Mengumpulkan lapisan debu sampai nanti kuangkat mereka dan kupindahkan ke posisi baru–untuk mengumpulkan debu lagi. Nanti, pikirku tiap melihat mereka. Nanti, pasti kubaca. Suatu saat yang akan datang. Segera. Semoga.

Aku mencabut kabel yang menancap di laptop yang menyala semalaman. Melirik angka yang menunjukkan waktu di sudut layar. 9.49. Masih pagi. Aku ada janji pukul 11 ini. Masih ada 1 jam. Aku duduk di kursi yang tidak nyaman itu lagi, yang kupikir ingin kuganti ratusan kali, tetapi tidak jadi. Kursi yang empuk dan baik untuk punggungku tidak baik untuk dompetku, saat ini. Nanti saja, pikirku sambil mengusap punggung bawah. Aku mengerti kalau kesehatan punggung itu penting, tapi nanti.

Mataku beralih ke layar. Beberapa tab terlihat aktif di Chrome, menunjukkan hal-hal yang kubaca dan kulakukan subuh tadi sebelum tidur. Tidak ada yang penting, hanya beberapa tulisan yang harus diselesaikan. Aku tercenung sejenak sebelum memutuskan untuk bertemu nanti jam 12 saja. Kutatap layar yang menyala dengan nanar. Aku harus mandi. Cucianku bertumpuk. Aku harus menyelesaikan tulisanku. Aku mau pergi.

Normal. Normal. Normal. Hari yang normal.

Aku menghela napas sebelum mengambil handuk yang bergantung di punggung kursi.

Hari ini dimulai.

Siang ini matahari begitu terang, tetapi tidak seterik biasanya. Keringat segera melapis pelipis dan pundak saat udara siang menyergap tubuhku. Ponsel ada di dalam genggaman tanganku, seperti biasa. Earphone menyumbat kedua telinga dengan kabel menjuntai di depan dada. Ransel bertengger di punggung, membuatnya berkeringat melembabkan kaos hitam favoritku. Aku berjalan ke stasiun dengan santai, sambil menggumamkan lirik lagu balad yang bergemuruh di telingaku. Berulang-ulang, sudah berapa hari belakangan ini.

Lagu Korea, lagu lama berirama sendu, yang dinyanyikan oleh seorang super idola K-Pop. Aku baru menjadi fansnya. Ah, dunia fans. Tidak akan ada yang mengerti duniaku satu itu. Begitu bercokol di hati, begitu diremehkan oleh orang-orang yang tidak tahu rasanya. Ah, sudahlah. Perasaan memang susah dimengerti. Aku saja tidak mengerti, apa lagi mereka? Dunia satu itu, biar menjadi milik pikiranku saja. Percuma bercerita tetapi yang kudapat hanya tatapan kebingungan atau ketidaktahuan.

Tidak terasa, langkahku sudah mencapai muka stasiun. Beberapa orang terlihat duduk di halte. Ada bapak tua penjual tisu. Seperti hari-hari lainnya, aku melewatinya. Bukan bapak tua satu ini langgananku. Tetapi tiap melihatnya, senantiasa aku berpikir kalau bapak ini sudah tua. Tua sekali. Aku tidak bisa membayangkan hanya untuk berapa waktu lagi dia masih bisa mampir ke stasiun dan berjualan tisu seperti biasanya.

Aku ingat, dulu, beberapa tahun lalu, ada seorang bapak tua berpostur ringkih dengan satu kaki membusuk yang terbungkus tebal perban dan kantong plastik hitam, mengamen di gang dekat kosanku. Ia biasa bermain suling, mengalunkan musik bernuansa Sunda. Ia tua, tua sekali. Lebih tua dari bapak penjual tisu, mungkin. Kehadirannya di gang itu tiba-tiba. Suatu hari dia ada begitu saja, kemudian menetap, seperti pengamen lainnya yang silih berganti mengambil tempat di gang yang selalu ramai dilewati mahasiswa itu. Beberapa saat berlalu, kehadirannya mulai terasa normal. Seperti pajangan di dalam rumah, ada dan memberi sentuhan, tetapi tidak cukup membekas dalam memori. Suatu hari mendadak terasa ketidakhadiran alunan suling yang biasa terdengar mendalu-dalu di gang.

Ke mana bapak tua itu? Pulang?

Beberapa hari kemudian aku mendapat jawabannya. Bapak tua itu berpulang. Mungkin akhirnya dia pulang ke rumah yang mungkin dia rindukan sejak lama. Berbicara tentang kepergian yang mendadak, ada dua wajah lain yang aku ingat dari waktuku melintas dan tinggal di sekitar gang itu. Mataku memanas bila mengingatnya, wajah mereka yang tersenyum dan kebaikan mereka padaku. Bapak penjual rawon yang membaca buku tentang Soekarno itu pergi mendadak. Warungnya tutup berhari-hari, kemudian berminggu-minggu. Lalu, aku mendapat kabar dia telah tiada. Begitu saja aku mengucapkan selamat berjumpa lagi pada bapak tua yang memasak rawon enak.

Kemudian ada ibu yang anak semata wayangnya tinggal satu kosan denganku. Suatu ketika diketahui ibu ini sakit, sejenis amandel katanya. Namun, tidak kunjung sembuh. Ia memutuskan pindah ke kosan lain, agar suaminya bisa ikut menjaga anak mereka. Beberapa waktu berlalu, kudengar anaknya sudah piatu. Ibu itu, aku ingat, suka memasak dan berbagi makanan dengan anak kosan yang lain. Aku salah satunya. Tetapi sekarang dia sudah pergi, namanya pun sudah hilang dari ingatan. Tetapi, tiap kali melihat suaminya yang masih tinggal di kosan bersama anak mereka, aku teringat pada kebaikan ibu tua ini.

Suara pengumuman kereta tiba menyadarkanku dari lamunan siang hari. Ah. Belum lama hari dimulai, pikiranku sudah mengusut dengan hal-hal duniawi seperti memori dan perasaan. Aku masuk ke dalam gerbong, memutuskan untuk tidak menaiki gerbong khusus wanita kali ini. Aku memilih berdiri di dekat pintu, agar bisa segera menyenderkan punggungku pada pembatas bangku. Irama balad lagu Korea masih menemani pikiranku melayang bersama waktu. Lebih banyak ia melayang ke masa lalu yang mengabur daripada masa depan yang tidak pasti.

Aku mengecek timeline Facebook. Jari jemari dengan fasih melintas di layar gawai yang berpendar itu. Kurasa amnesia sekalipun tidak akan membuat jemariku lupa caranya mengakses media sosial satu itu. Tidak ada update menarik selain dari beberapa menit lalu, yang kupandang sekilas saja, hanya untuk membunuh detik-detik di jalan. Beberapa notifikasi masuk. Aku habiskan dengan membalas mereka dan mendistribusikan berat badan pada kaki lainnya, supaya tidak pegal. Ketika akhirnya ada kursi kosong, aku beranjak untuk duduk. Di sebelahku seorang pria berjaket kulit sedang tidur lelap dengan mulut menganga dan tubuh menyender ke pembatas bangku. Di sisi lain, seorang nenek dengan tubuh kurus dan ringkih menatap ke depan, entah melihat penumpang di hadapannya atau memikirkan hal lain.

Raut wajah tua dengan flek-flek hitam yang menemani kulit keriput selalu mengingatkanku pada nenekku yang masih di kampung. Dia selalu tidak mau kuajak mampir ke tempatku. Tapi yang benar saja, tempatku memang tidak ramah untuk nenek. Tidak ramah juga untuk ibu. Kamar kosan yang kecil itu hanya ramah untukku. Dia duniaku, tempat aku melepas topeng-topeng kedewasaan ketika mengakhiri hari. Ahh, anganku sudah melayang lagi. Cepat-cepat aku kembali pada kenyataan.

Nenek itu terbatuk-batuk kecil. Aku meliriknya dari sudut mataku dan menoleh penuh ketika dia melihat ke arahku. Badannya yang kecil dan ringkih, dan mukanya yang penuh guratan-guratan hidup. Aku tersenyum lebar pada nenek itu, yang segera membalas senyumku.

Satu momen berlalu, tetapi aku tahu yang akan terjadi selanjutnya. Aku bisa memprediksinya dengan tepat karena sudah terlalu sering ini terjadi. Tiap senyuman pada orang asing akan berbuah percakapan tidak bermakna. Percakapan singkat untuk mengisi waktu luang yang sama-sama dimiliki saat itu, di ruang itu. Percakapan yang tidak mengikat karena tidak akan ada lanjutannya bila tidak perlu. Sekadar percakapan basa-basi.

“Mau ke mana?” tanya nenek itu.

Aku tersenyum dalam hati. Betul kan?

“Mau ke Kalibata, ibu,” jawabku.

Masih dua stasiun lagi, pikirku saat melirik sekilas pemandangan di luar jendela. Senyuman tetap bertengger di wajahku. Tanganku bergerak mencopot earphone, bersiap untuk bercakap dengan nenek yang bersuara parau, khas orang tua yang tenggorokannya mulai mengusang. “Ibu mau ke mana?”

Dia menerawang sebentar, kemudian menjawab, “Jalan-jalan. Mau jalan-jalan.” Lalu, mukanya mengerut seakan merasakan sakit yang tidak terlihat olehku.

Panik membersit dalam pikiranku. Kenapa ini?

“Sedih saya. Kalau di rumah saya dimarahin.”

Aku tersentak. Oh. Aku ingat dengan jelas apa yang terjadi pada nenekku oleh anak-anaknya sendiri, para paman dan tanteku.

“Habis nyuci piring dimarahin.” Mata nenek itu mulai berkaca-kaca. “Saya mau jalan-jalan saja. Pulangnya sore. Sedih.”

Ah. Mataku sendiri mulai panas. Aku tahu mereka berkaca-kaca juga, meniru nenek yang tidak kukenal ini. Aku ingat apa yang kulakukan pada ibu. Aku tahu rasa bersalah ini asalnya dari mana. Aku duduk lebih tegap, menahan diri untuk tidak menghela napas berat, menghembuskan rasa bersalah itu perlahan bersama dengan karbondioksida dari mulutku.

Kujulurkan tanganku untuk menepuk-nepuk bahu nenek dengan canggung. Sefamiliar apa pun rasa yang aku dan nenek miliki dengan isu itu, kami tetap orang asing bagi satu sama lain.

“Ibu jangan sedih, kan lagi jalan-jalan.”

Kalimat itu kuucapkan dengan optimisme yang semoga tidak terdengar kosong. Semoga bisa menghibur nenek, harapku. Tetapi matanya menerawang dan masih berkaca-kaca. Mungkin ingatan tentang apa yang terjadi di rumah melintas dalam pikirannya. Aku ulangi lagi kalimat kosong itu, sungguh berharap ia tidak terdengar kosong.

Beberapa penghuni gerbong itu melihat ke arahku dan nenek. Diam-diam memperhatikan kejadian yang berlangsung. Apakah mereka mendengar kami? Mengerti apa yang sedang terjadi padaku dan nenek? Bahwa kami terhubung dalam satu cerita yang serupa? Bahwa pada cerita yang satu, seseorang menjadi pelaku dan penontonnya, dan pada cerita yang satu lagi, ia yang menjadi korbannya?

Sayup-sayup kudengar suara pengumuman dari speaker bersuara nyaring di dalam kereta. Pertemuan dengan orang asing kali ini singkat sekali. Kulirik sekilas muka nenek tua itu. Matanya masih berkaca-kaca, tetapi tidak ada air mata yang mengancam luruh dari kedua bola matanya yang keruh dengan katarak.

“Ibu, sebentar lagi Stasiun Kalibata.”

Aku menepuk pelan bahunya. Masih canggung, tetapi sedikit lebih ramah menurutku. Semoga bisa sedikit memberikan perhatian yang tidak ia dapat di rumahnya. “Saya turun, ya. Ibu hati-hati. Jangan sedih lagi. Kan lagi jalan-jalan.”

Nenek tua itu tersenyum kecil. Masih sedih tampaknya. “Hati-hati ya, nak. Terima kasih.”

Ah. Sial. Kata-kata itu menyergapku.

“Iya, bu. Hati-hati juga, ya.”

Aku beranjak dan bergerak menuju pintu. Keretanya mulai melambat. Pemandangan familiar Stasiun Kalibata juga bergerak di luar jendela plastik itu. Aku menoleh ke belakang, memberikan senyum lebar pada nenek yang masih memperhatikanku, entah apa matanya masih tajam untuk melihat ekspresiku atau tidak.

Kereta mulai melambat. Decit roda besi yang ditahan rem tidak terdengar jelas ketika kuping kembali kusumbat dengan lantunan lagu yang masih mendalu-dalu dari earphone. Pintu bergeser terbuka dan aku melangkahkan kaki keluar. Orang-orang lalu lalang di peron, kaki-kaki bergerak mengantarkan pemiliknya ke destinasi yang dituju.

Ah. Hilang sudah momen bersama nenek, pikirku. Semoga ia menemukan apa yang ia cari dari jalan-jalannya. Walau barang sebentar, aku berharap ia berhasil lari dari kenyataan hidupnya. Dalam sekejap, pikiranku akan menghapus keberadaannya dari hidupku. Begitupun yang terjadi dengan keberadaanku dalam hidup nenek itu.

Kulirik jam di layar gawai. Yep. Belum terlambat. Hariku yang sebenarnya baru akan dimulai.

(Bertemu teman. Menyelesaikan pekerjaan dan tanggung jawab. Melepaskan angan yang larut dalam bayang-bayang entah apa. Membiarkan waktu bergulir, tik-tok-tik-tok, dan kandas dalam ruang yang fana. Nyata hanya untuk sementara, lalu mengabur seperti asap tak terlihat.)

Hariku seperti biasanya, seperti hari-hari lainnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s