Curhat di Balik Sebuah Pertanyaan

Standard

Pagi ini saya membaca berita ini: Komnas PA Khawatir, Anak Mengolok Teman dengan Sebutan Kafir.

Beberapa waktu lalu, saya sempat mengobrol dengan seorang teman. Ia bertanya apakah saya baik-baik saja setelah putusan Ahok.

I am a mess 😦

Itu jawaban saya.

And, I am. Still am.

Bermalam-malam setelah itu, insomnia saya kambuh. Banyak pikiran yang berkecamuk, namun yang paling bergema adalah tentang eksistensi saya. Perlukah saya berjuang sebegitunya hanya untuk mendapatkan pengakuan atas identitas saya? Tapi oke, saya sudah dewasa, saya tahu menyikapinya.

Tapi anak-anak?

Saya adalah produk diskriminasi ras. Sejak kecil saya sudah mendengar pernyataan-pernyataan yang menyinggung identitas saya sebagai keturunan Cina. Dari yang berupa candaan sampai yang berupa anjuran, maupun hardikan. Baik dari teman, orang asing, maupun oleh keluarga saya sendiri.

Omong-omong, kalian tahukah apa hasil dari diskriminasi terhadap keturunan Cina? Tidak? Saya kasih bocoran. Sebesar diskriminasi yang ia terima, sebegitu pula keturunan Cina mendiskriminasi para orang yang mendiskriminasi mereka.

Memaafkan orang-orang yang telah tidak berlaku adil pada diri? Tidak semua orang bisa melakukannya.

Saya punya teman orang Batak. Ia sangat menyukai orang Cina dan kebudayaan Cina. Ia ingin berteman dengan mereka, tapi di kampung halamannya ia merasa dikucilkan.

“Kenapa ya kak? Padahal saya cuma ingin berteman sama mereka.”

Do I have answer to that? Yes. Ekslusivitas keturunan Cina, sampai akhirnya dicap sombong, adalah akibat dari pengucilan dan diskriminasi. You can argue. But you can’t deny that it’s one of the factors.

“Jangan kawanan samo hwana terus, emang kau mau jadi hwana?”

FYI, hwana adalah istilah kasar untuk menunjuk pribumi. Sudah berapa kali saya ditanya seperti itu sejak kecil? I hate the term. I still hate it.

There’s one phase where I hated that I was born Chinese. I refused to practice the ritual. I refused to learn the language. I hated listening to my family talking in Chinese. Saya cuma mau berbahasa Indonesia. Saya kan orang Indonesia. Itu pun bagi sebagian orang saya masih dicap pendatang. Sekarang saya sudah mulai berdamai dengan identitas saya sebagai keturunan Cina.

Tapi belakangan ini, bukan cuma ras saya yang jadi masalah. Rupanya agama pun menjadi alasan untuk bertindak diskriminasi. Well, belum ada sih yang terang-terangan memanggil saya kafir, baik candaan atau seriusan. But I hate the term all the same like I hate hwana. I hate that it’s going to be the same thing like my childhood again.

Jadi, pagi ini saya putuskan untuk bertanya pada mereka yang berbeda pendapat dengan saya. Entah jawaban apa yang akan saya dapat. Entah adakah yang akan menjawab saya. Tapi saya lega, saya sudah mengeluarkan unek-unek dan bertanya.

Karena sesungguhnya saya benci berada di dalam gelap maupun di tengah riuh, tapi yang ada dalam pikiran hanya asumsi-asumsi yang menjelma jadi kecemasan yang memakan dan melumpuhkan saya pelan-pelan.

Saya memang bertanya dan menuntut jawaban, tetapi sesungguhnya bertanya adalah cara saya untuk melawan kecemasan yang menggerogoti pikiran saya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s