Language of Advocacy

Standard

Akhir tahun 2015 silam adalah pertama kalinya saya mendengar istilah ini, yaitu saat presentasi di sebuah seminar internasional.

Saya mendengarnya saat Nila Ayu Utami mempresentasikannya dalam sebuah seminar internasional yang berlangsung di UI Desember itu. Saat itu Nila sedang membahas tentang temuannya saat mengunjungi sebuah komunitas di Garut, atau Kuningan, saya lupa tepatnya. Dalam bahasannya, ia mengutarakan tentang Language of Advocacy, yang digunakan oleh tim yang mengadvokasi isu agraria bersama komunitas tersebut. Itu terlihat dari bahasa yang dipakai, penyusunan kalimat, dan pemilihan kata-kata. Tentu sebagai alat komunikasi, bahasa tidak hanya verbal saja, tapi juga mencakup mimik, gestur, intonasi dan innuendo.

Flash back sedikit ke 2014. Saat mengikuti salah satu kuliah Bu Melani Budianta, ada celetukan tentang makna yang didiamkan. Siapa yang menyebut saya lupa. Intinya adalah sesuatu yang dengan sengaja tidak disebutkan memiliki beban makna dan kepentingannya sendiri.

Fast forward ke tengah Maret dan April 2018. Saya berkesempatan menghadiri beberapa kali sesi persidangan sebuah kasus yang diproyeksikan penistaan agama, ketika justru korbannya menjadi terdakwa. Di sini untuk pertama kalinya saya dengan jelas mengalami bagaimana language of advocacy atau bahasa pembelaan digunakan dan bekerja. Tidak hanya oleh kubu penasehat hukum terdakwa atau jaksa penuntut umum, tetapi juga oleh pihak-pihak lain yang memiliki kepentingan di dalamnya. Kadang terdengar samar, subliminal, dan spontan sebagai upaya justifikasi diri, kadang pula terlihat direncanakan dan manipulatif dengan bobot kepentingan yang sudah jelas.

Hari ini, saya kembali diingatkan tentang language of advocacy, dan satu pertanyaan dengan beban moral: apa yang bisa saya lakukan untuk menjembatani perbedaan bahasa (baca: kepentingan) ini? Apa dialog saja cukup? Apa mengerti alasan dibalik kepentingan itu saja cukup? Atau saya yang terlalu terburu-buru menghakimi kekuatan dialog?

Toh, Bandung Bondowoso sudah membuktikan bahwa tidak ada candi yang bisa dibangun dalam semalam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s