Balada Priwitan

Standard

Priit… priitt…

Lirih suara itu terdengar, sayup terdengar keraguan
Dalam nada yang terdengar tanpa gairah itu
Mungkin ada sebersit rasa rendah diri di sana
Suara priwitan itu begitu lirih, tidak enak didengar

(Kenapa, oh kenapa? Lirih, tanpa gairah, seru mereka, mati saja, mati saja!)

Seorang tukang parkir dengan sebuah peluit oranye jelek
Rambutnya ikal dengan panjang tidak lebih dari satu buku jari
Tubuhnya kurus dan pendek, mukanya biasa saja
Takkan banyak yang ingat, dia tidak spesial, tidak istimewa

Priit… priitt…

Suara lirih itu bergema di dalam kepala ini
Tangan tengadah, raut muka memelas
Ada bercak ragu di kerut-kerut mukanya, dalam mata sayunya
Seakan tak yakin dengan apa yang sedang ia lakukan

(Apakah ada pilihan? Tidak, tidak, seru mereka, harusnya iya.)

Selembar uang lecek, nominal kecil yang tidak begitu membanggakan
Disimpannya dalam kantong celana lusuh
Rautnya tidak berubah, penuh ragu, ketidakpastian, dan bingung
Kendaraan itu berlalu dan dia pun menyingkir, menunggu berikutnya

Priit… priitt…

(Apakah cuma uang yang dicarinya? Apalagi, seru mereka, apalagi?)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s