Hari Seperti Biasanya..

Standard

Hari ini seharusnya normal. Aku bangun menjelang siang dengan hati yang lebih ringan. Mata yang lebih segar setelah semalaman menatap layar laptop yang berpendar. Entah apa yang kulakukan, kupikirkan semalam, semua mengabur, melebur dalam tidur dengan mimpi yang mendebarkan. Aku tahu tidurku tidak lelap. Mimpi bagiku bukan bunga tidur yang menyenangkan. Ia adalah jelmaan hati yang resah.

Continue reading

Advertisements

Anekdot: Ceruk di Pantai dan Tuhan

Standard

Alkisah, ada seseorang yang disebut saya. Saya ini orangnya selalu penasaran dengan sosok yang dimuliakan manusia sebagai pencipta-Nya. Kata Tuhan adalah alias yang digunakan saya untuk menggambarkan sosok maha sempurna ini. Ketika menuju usia dewasa, saya tertarik untuk memahami Tuhan lebih lanjut dan berpikir untuk mempelajari teologi. Suatu sore, saya mampir ke rumah guru agamanya. Kemudian, saya bercerita pada guru ini tentang keinginannya untuk belajar teologi.


Continue reading

VerseTime: Ingat Mamak Kau Dan Jangan

Standard

“Kau bayangkan itu mamak kau. Yang susunya kau pegang-pegang!”

Adalah kata-kata yang meradang dalam benak ini, dan menggeram, dan meraung. Mata ini terus mengilas balik hari itu.

“Babi kau!” Makian itu panas di lidah, tapi tak pernah mewujud jadi bunyi. Apa salah si babi sampai harus kupinjam namanya untuk memaki lelaki muda keparat itu.

Kulihat dia menempeli ibu dua anak itu, yang duduk dan tidak terlihat nyaman dengan teman sebelahnya yang duduk sengaja menempel itu.

Terperangah aku ketika kulihat jari jemari itu perlahan terlihat muncul dari sela-sela tubuh mereka berdua yang menempel. Jelas sekali jari-jari lancang itu baru saja mampir dari mana.

Kutatap keparat itu dengan berang. Mataku mungkin berapi, sikapku mungkin garang.

Dia menatap balik. Pandangan mata yang datar. Tidak panik karena baru saja tertangkap basah. Tidak pula menantang. Hanya menatap. Mungkin bertanya, “apa yang akan kau lakukan?”

Kereta melambat. Aku berdiri. Aku tatap kembali si keparat, kata-kata masih mencekat leherku.

Dia kembali menatap. Si ibu kembali mengurusi anaknya yang masih kecil. Dua anak perempuan yang manis dan ceria, yang tidak tahu apa yang baru terjadi pada ibunya.

Aku tahu. Aku diam. Ibu itu juga diam, mungkin ingin lupa. Lelaki itu juga diam. Tatapannya tetap datar.

Kuangkat tanganku yang mengepal membentuk tinju.

“Babi kau!” geram benakku.

Kulayangkan tinjuku. Pintu kereta membuka. Hanya udara yang menjadi korban. Langkahku berat. Hatiku meradang. Kata-kata masih membisu dalam tenggorok. Pintu kereta menutup. Mereka berlalu.

Aku melangkah pergi. Diam. Diam, namun tidak akan lupa. Diam, namun terus bising dalam ingatan.

Diam.

—-

Catatan:
Kejadian ini nyata, terjadi Senin, 21 Oktober 2013 menjelang pukul 8 pagi di CommuterLine jurusan Jatinegara menuju Bogor. Pertama kali bersuara di Facebook, 24 Oktober 2013. Kebisuanku kala itu telah mencabik hati.

Sudah.

Standard

Sudah usap itu air mata
Pilu itu hati, tidak bantu
Sudah henti itu air mata
Ingin saja, omong itu kosong
Sudah, sudah, kata pertiwi
Angkat kepala itu,
Dan pikir
Angkat tangan itu,
Dan buat
Sudah itu saja

Ellen, 20/10/13, akhir seminar BWCF2013

Cerituit: Aku Sang Pembunuh.

Standard

#bunuh. Aku bunuh dia. Tanpa rasa bersalah. Aku justru makin bengis, amarahku belum reda. Kubunuh lagi yang lain. Mati kau.

#bunuh. Ah, kurang puas rasanya. Mungkin sebelum dia menghadap Tuhannya, sebelum mati kubunuh, ada baiknya dia merasakan sengat listrik ini.

#bunuh. Hmm wangi daging terpanggang yang tak tercium. Oh tubuhnya meregang kaku. Mana jerit sakitnya? Ah mungkin kupingku kurang peka saja.

Tak perlu kubur dia yang ku #bunuh. Biar angin saja yang bawa busuk bangkainya. (Apa kau pernah membunuh? Tidak. Aku pernah.

Bagaimana rasa #bunuh? Menyenangkan bisa melampiaskan kesalku. Siapa mereka? Bukan siapa, hanya nyamuk.)

___

Cerituit ini didedikasikan pada
nyamuk-nyamuk yang senantiasa
menemani saya di kala begadang.

@erulenonk, 12 September 2013.

VerseTime: Ordnung

Standard

p1020216
source: x

Ordnung

KIT
Amm
arg.

_________________
Posted on Facebook Note on Friday, November 21, 2008 at 12:47pm

I remembered writing this in the german literature class when the lecturer told us to make a concrete poetry. I know what I am writing up there, it’s kind of childish and foolish of me, but you will never know :p