Curhat di Balik Sebuah Pertanyaan

Standard

Pagi ini saya membaca berita ini: Komnas PA Khawatir, Anak Mengolok Teman dengan Sebutan Kafir.

Beberapa waktu lalu, saya sempat mengobrol dengan seorang teman. Ia bertanya apakah saya baik-baik saja setelah putusan Ahok.

I am a mess 😦

Itu jawaban saya.

And, I am. Still am.

Bermalam-malam setelah itu, insomnia saya kambuh. Banyak pikiran yang berkecamuk, namun yang paling bergema adalah tentang eksistensi saya. Perlukah saya berjuang sebegitunya hanya untuk mendapatkan pengakuan atas identitas saya? Tapi oke, saya sudah dewasa, saya tahu menyikapinya.

Tapi anak-anak?

Continue reading

Advertisements

Human as a Code.

Standard

Or humanizing human by looking at human as a human? Or maybe, SELF: questioning the idea of human?

I don’t know, this is just another midnight muse that won’t let me go until I words-vomit it. I have been on this for most midnights the past week. So if you are going to read this, sorry not sorry for the confusion later on. It’s a messy, jumbled thought. You are warned. Continue reading

Menjadi Indonesia di Tengah Malam

Standard
Indonesia, What Indonesia?

What Indonesia?

Sekadar melindur di waktu yang sunyi dan gelap.

Malam yang menuju subuh di hari-hari yang normal, kalau belum lelap di alam mimpi, biasanya akan membawa pikiran saya melanglang ke mana-mana. Tidak jarang pula pikiran itu mampir pada memori perjalanan-perjalanan yang lalu. Malam ini, misalnya, mereka membawa saya pada perjalanan yang terjadi sekitar 3 tahun belakangan.
Continue reading

Anekdot: Ceruk di Pantai dan Tuhan

Standard

Alkisah, ada seseorang yang disebut saya. Saya ini orangnya selalu penasaran dengan sosok yang dimuliakan manusia sebagai pencipta-Nya. Kata Tuhan adalah alias yang digunakan saya untuk menggambarkan sosok maha sempurna ini. Ketika menuju usia dewasa, saya tertarik untuk memahami Tuhan lebih lanjut dan berpikir untuk mempelajari teologi. Suatu sore, saya mampir ke rumah guru agamanya. Kemudian, saya bercerita pada guru ini tentang keinginannya untuk belajar teologi.


Continue reading

Saya dan Sikap Pro-LGBT

Standard

Saya selalu, sepanjang ingatan saya, pro dengan keberadaan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender)[1], walaupun tidak pernah mengambil tindakan konkrit dan khusus untuk menyuarakan sikap saya ini. Dengan postingan ini (dan satu postingan lain yang masih ditulis), saya ingin turut bersuara atas sikap saya. Beruntungnya saya diberi kehebohan lain saat isu ini sedang panas-panasnya dibahas, sehingga kini saya sudah lebih tenang dalam bersuara :v.

Continue reading