7 hari berlalu

Standard

Sudah 7 hari. Sebentar lagi, dalam hitungan menit, 168 jam akan berlalu dari waktu itu.

Continue reading

Advertisements

Keberpihakan

Standard

Malam ini pikiran saya melayang ke 2014 di Hsinchu, Taiwan, ketika saya sedang mengikuti Inter-Asia Cultural Studies Summer School dengan tajuk “Introduction to Modern Asian Thought”. Ini bukan pikiran yang datang tiba-tiba. Beberapa malam lalu saat sedang menyeleksi dokumen-dokumen yang saya miliki, saya menemukan draf tulisan Ashis Nandy bicara tentang memori kolektif. Tulisan ini dibagikan di salah satu sesi summer school. Saya ingat dia sempat menyebutkan, dengan kalimat yang tidak persis sama karena ingatan saya kacrut:

“Always sides with the victim.” Selalulah berpihak pada korban.

Ini lalu mengingatkan saya pula dengan ucapan Manneke Budiman, salah satu dosen pengajar di beberapa mata kuliah Cultural Studies FIB-UI, lagi tidak sama persis tapi ini sesuai apa yang saya tangkap, bahwa kalau dalam menulis penelitian, bersikap netral atau objektif itu fatal; seorang peneliti harus menentukan posisinya, alias subjektif. Saya menangkap, bahwa saat mengumpulkan data seseorang harus seobjektif mungkin, namun ketika sudah mencapai kesimpulan, berlaku subjektif dan mengambil posisi itu penting.

Lalu kenapa malam ini jadi merenungkan keberpihakan? Karena entah kenapa, rasanya, pada kenyataannya saat mengumpulkan data saja subjektivitas sudah muncul. Masalahkah ini? Bagi saya, iya jawabannya. Namun ketika harus melihat semua data dengan objektif, hati ini rasanya bersungut-sungut. Selain banyak data, sudut, dan pandangan yang harus dilihat, rasanya timbul simpati di segala dimensi.

Kembali pada pernyataan Nandy, selalulah berpihak pada korban. Tentu pertanyaannya, siapa korbannya? Pun ini tidak bisa dilihat satu sisi. Yang jelas apa yang punya kuasa tidak bisa menjadi korban. Di sini saya bisa setuju. Walau untuk menentukan kepada siapa saya harus berpihak, hati saya masih sering gamang.

Ah, you. Stop the trying-to-save-every-one mentality.

Curhat Kilat: Kalau bukan Side-A pasti Side-B

Standard

Hati lagi gundah dengan keberadaan mindset, bahwa kalau bukan hitam pasti putih. Kalau bukan side-A pasti side-B. Kalau sudah pilih X, pasti benci Y. Tunggu dulu. Memang warna cuma ada dua? Memangnya hitam yang dimaksud lu, gw, kita, pasti warna hitam yang sama persis? Wong hitam aja banyak jenisnya, ada yang pekat, ada yang hampir kebiruan, dan begitu pula dengan warna putih.

Saya mengerti di balik sebuah pilihan pasti ada alasan dan konsekuensi. Ketika dilempar begitu saja di media sosial yang konteksnya bisa ke mana-mana, diinterpretasikan orang dengan semena-mena, padahal di balik “postingan, komentar, guyonan oleh orang lain” ada latar belakang, pengalaman, dan karakter yang berbeda-beda, apa kata dunia? Di mana titik temunya bahwa saya dan kamu sama-sama saling mengerti dan bukan menghakimi cuma dari sekelebat interaksi digital?

Kemudian, bahayanya lagi, menurut hemat saya yang medit parah ini, adalah ketika alih-alih mengupayakan diskusi, lebih baik bergerombol sama yang sejenis saja. Sama seperti menjadi katak yang memilih tinggal di dalam tempurung saja. Karena yang dibutuhkan hanyalah argumen dan validasi dari mereka yang segerombol sama saya agar *rasa* ini makin kuat, bahwa “apa yang saya rasakan benar” dan “orang-orang yang mencoba membuat saya merasa tidak benar adalah musuh yang harus dibasmi”.

Bahaya! Karena jadinya menutup diri terus bodo amat sama yang lain-lain yang bertentangan dengan diri ini. Ya kalau gitu ceritanya, bhay lah itu keberagaman.

Padahal saya sekolah tinggi-tinggi, diajarin untuk berpikir objektif dan kritis, tapi ya kadang masih kejebak hal beginian juga. Lantas apa yang bisa dilakukan? Masak iya pilihannya cuma Side-A, Side-B, memangnya kaset walkman yang kudu diputer pake ujung pensil itu? Coba dipikirin lebih lanjut yaa *ngomong sama diri sendiri* #random #musing

Curhat di Balik Sebuah Pertanyaan

Standard

Pagi ini saya membaca berita ini: Komnas PA Khawatir, Anak Mengolok Teman dengan Sebutan Kafir.

Beberapa waktu lalu, saya sempat mengobrol dengan seorang teman. Ia bertanya apakah saya baik-baik saja setelah putusan Ahok.

I am a mess 😦

Itu jawaban saya.

And, I am. Still am.

Bermalam-malam setelah itu, insomnia saya kambuh. Banyak pikiran yang berkecamuk, namun yang paling bergema adalah tentang eksistensi saya. Perlukah saya berjuang sebegitunya hanya untuk mendapatkan pengakuan atas identitas saya? Tapi oke, saya sudah dewasa, saya tahu menyikapinya.

Tapi anak-anak?

Continue reading