Curhat Kilat: Kalau bukan Side-A pasti Side-B

Standard

Hati lagi gundah dengan keberadaan mindset, bahwa kalau bukan hitam pasti putih. Kalau bukan side-A pasti side-B. Kalau sudah pilih X, pasti benci Y. Tunggu dulu. Memang warna cuma ada dua? Memangnya hitam yang dimaksud lu, gw, kita, pasti warna hitam yang sama persis? Wong hitam aja banyak jenisnya, ada yang pekat, ada yang hampir kebiruan, dan begitu pula dengan warna putih.

Saya mengerti di balik sebuah pilihan pasti ada alasan dan konsekuensi. Ketika dilempar begitu saja di media sosial yang konteksnya bisa ke mana-mana, diinterpretasikan orang dengan semena-mena, padahal di balik “postingan, komentar, guyonan oleh orang lain” ada latar belakang, pengalaman, dan karakter yang berbeda-beda, apa kata dunia? Di mana titik temunya bahwa saya dan kamu sama-sama saling mengerti dan bukan menghakimi cuma dari sekelebat interaksi digital?

Kemudian, bahayanya lagi, menurut hemat saya yang medit parah ini, adalah ketika alih-alih mengupayakan diskusi, lebih baik bergerombol sama yang sejenis saja. Sama seperti menjadi katak yang memilih tinggal di dalam tempurung saja. Karena yang dibutuhkan hanyalah argumen dan validasi dari mereka yang segerombol sama saya agar *rasa* ini makin kuat, bahwa “apa yang saya rasakan benar” dan “orang-orang yang mencoba membuat saya merasa tidak benar adalah musuh yang harus dibasmi”.

Bahaya! Karena jadinya menutup diri terus bodo amat sama yang lain-lain yang bertentangan dengan diri ini. Ya kalau gitu ceritanya, bhay lah itu keberagaman.

Padahal saya sekolah tinggi-tinggi, diajarin untuk berpikir objektif dan kritis, tapi ya kadang masih kejebak hal beginian juga. Lantas apa yang bisa dilakukan? Masak iya pilihannya cuma Side-A, Side-B, memangnya kaset walkman yang kudu diputer pake ujung pensil itu? Coba dipikirin lebih lanjut yaa *ngomong sama diri sendiri* #random #musing

Advertisements

Curhat di Balik Sebuah Pertanyaan

Standard

Pagi ini saya membaca berita ini: Komnas PA Khawatir, Anak Mengolok Teman dengan Sebutan Kafir.

Beberapa waktu lalu, saya sempat mengobrol dengan seorang teman. Ia bertanya apakah saya baik-baik saja setelah putusan Ahok.

I am a mess 😦

Itu jawaban saya.

And, I am. Still am.

Bermalam-malam setelah itu, insomnia saya kambuh. Banyak pikiran yang berkecamuk, namun yang paling bergema adalah tentang eksistensi saya. Perlukah saya berjuang sebegitunya hanya untuk mendapatkan pengakuan atas identitas saya? Tapi oke, saya sudah dewasa, saya tahu menyikapinya.

Tapi anak-anak?

Continue reading

Human as a Code.

Standard

Or humanizing human by looking at human as a human? Or maybe, SELF: questioning the idea of human?

I don’t know, this is just another midnight muse that won’t let me go until I words-vomit it. I have been on this for most midnights the past week. So if you are going to read this, sorry not sorry for the confusion later on. It’s a messy, jumbled thought. You are warned. Continue reading

Menjadi Indonesia di Tengah Malam

Standard
Indonesia, What Indonesia?

What Indonesia?

Sekadar melindur di waktu yang sunyi dan gelap.

Malam yang menuju subuh di hari-hari yang normal, kalau belum lelap di alam mimpi, biasanya akan membawa pikiran saya melanglang ke mana-mana. Tidak jarang pula pikiran itu mampir pada memori perjalanan-perjalanan yang lalu. Malam ini, misalnya, mereka membawa saya pada perjalanan yang terjadi sekitar 3 tahun belakangan.
Continue reading

Anekdot: Ceruk di Pantai dan Tuhan

Standard

Alkisah, ada seseorang yang disebut saya. Saya ini orangnya selalu penasaran dengan sosok yang dimuliakan manusia sebagai pencipta-Nya. Kata Tuhan adalah alias yang digunakan saya untuk menggambarkan sosok maha sempurna ini. Ketika menuju usia dewasa, saya tertarik untuk memahami Tuhan lebih lanjut dan berpikir untuk mempelajari teologi. Suatu sore, saya mampir ke rumah guru agamanya. Kemudian, saya bercerita pada guru ini tentang keinginannya untuk belajar teologi.


Continue reading