Hi ~ long time no see.

Standard

Just an hour ago, without any preamble, I received an email with that subject. One can guess the content of the letter right away. But I am not talking about the content. (It’s just a simple “hello, do you still remember me? Since I am able to use email now as it’s usually prohibited, I thought to contact you and let you know why I haven’t contacted you since last time.”) However short and cliche it sounds, it’s a sweet gesture. Especially considering the effort she has to endure to be able to send one electronic mail.

I met her only for short hours on a dormitory room in a hostel last year in Taipei. We didn’t talk much, nothing passed the initial introduction conversation when one meets fellow travelers. We stayed in contact for a month after separating our way, but then, one year later, now, we are talking again. A short conversation about trivial things. However, it did make life a notch brighter.

I am not sure why I wanted to share the moment here in this blog, but somehow I felt that it is noteworthy. When you actually feel like a fleck of dust lost among scattered stars, eventually you will find that you aren’t actually lost and there is someone somewhere, maybe a familiar stranger, wondering for your (well-)being, even only for a blink of nameless face flash-back.

Advertisements

Anekdot: Ceruk di Pantai dan Tuhan

Standard

Alkisah, ada seseorang yang disebut saya. Saya ini orangnya selalu penasaran dengan sosok yang dimuliakan manusia sebagai pencipta-Nya. Kata Tuhan adalah alias yang digunakan saya untuk menggambarkan sosok maha sempurna ini. Ketika menuju usia dewasa, saya tertarik untuk memahami Tuhan lebih lanjut dan berpikir untuk mempelajari teologi. Suatu sore, saya mampir ke rumah guru agamanya. Kemudian, saya bercerita pada guru ini tentang keinginannya untuk belajar teologi.


Continue reading

Saya dan Sikap Pro-LGBT

Standard

Saya selalu, sepanjang ingatan saya, pro dengan keberadaan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender)[1], walaupun tidak pernah mengambil tindakan konkrit dan khusus untuk menyuarakan sikap saya ini. Dengan postingan ini (dan satu postingan lain yang masih ditulis), saya ingin turut bersuara atas sikap saya. Beruntungnya saya diberi kehebohan lain saat isu ini sedang panas-panasnya dibahas, sehingga kini saya sudah lebih tenang dalam bersuara :v.

Continue reading

#Senyap – Realitamu, Realitaku?

Standard

Senyap (The Look of Silence)

  • Language: Indonesian/Javanese
  • Year Released: 2014
  • Director: Joshua Oppenheimer
  • Starring: Adi Rukun
  • Realitamu, Realitaku?

    Tanggal 10 November 2014 adalah tanggal yang dipilih untuk meluncurkan film yang berjudul Senyap (The Look of Silence) di Indonesia. Tanggal ini juga mempunyai makna sebagai Hari Pahlawan di negeri ini. Saya rasa ada sesuatu yang ingin disampaikan dengan pemilihan tanggal ini. Siapa itu pahlawan? Yang membela negara? Selepas menonton film ini, mungkin timbul pertanyaan-pertanyaan baru tentang artian pahlawan dan membela negara itu sendiri. Continue reading

    Warisan Budaya Tionghoa di Museum Benteng Heritage

    Standard


    Selamat datang!

    Terletak di Pasar Lama Tangerang, Museum Benteng Heritage adalah museum kebudayaan Indonesia Tionghoa yang pertama ada di Indonesia. Museum ini merupakan bangunan tua yang diduga berasal dari abad ke 17 dan memiliki nilai historis tinggi. Udaya Halim, pemilik museum, membeli bangunan berarsitektur tradisional Tionghoa ini pada November 2009, dan setelah melakukan restorasi selama dua tahun, museum ini resmi didirikan tanggal 11 November 2011 pukul 20.11.

    Selengkapnya di timejumble.wordpress.com: klik.