Cerituit: Aku Sang Pembunuh.

Standard

#bunuh. Aku bunuh dia. Tanpa rasa bersalah. Aku justru makin bengis, amarahku belum reda. Kubunuh lagi yang lain. Mati kau.

#bunuh. Ah, kurang puas rasanya. Mungkin sebelum dia menghadap Tuhannya, sebelum mati kubunuh, ada baiknya dia merasakan sengat listrik ini.

#bunuh. Hmm wangi daging terpanggang yang tak tercium. Oh tubuhnya meregang kaku. Mana jerit sakitnya? Ah mungkin kupingku kurang peka saja.

Tak perlu kubur dia yang ku #bunuh. Biar angin saja yang bawa busuk bangkainya. (Apa kau pernah membunuh? Tidak. Aku pernah.

Bagaimana rasa #bunuh? Menyenangkan bisa melampiaskan kesalku. Siapa mereka? Bukan siapa, hanya nyamuk.)

___

Cerituit ini didedikasikan pada
nyamuk-nyamuk yang senantiasa
menemani saya di kala begadang.

@erulenonk, 12 September 2013.

Advertisements

Cerituit: Filosofi Bebek

Standard

So on January 15, 2011, I wrote Filosofi Bebek on my Twitter account under the hashtag #kwek!. A total of 14 tweets, with every tweet separated by #kwek!. Wanted to share it here, it’s in Bahasa Indonesia, edited for style and added some missing words because the limited 144 tweet letters.

And, uh, it’s about life and duck.

bebek
source: x

Filosofi Bebek
oleh @erulenonk, 15 Januari 2011

Aku cuma perempuan
yang tidak istimewa.
Tidak kaya,
tidak rupawan,
tidak pintar.
Pokoknya tidak ideal.
Aku cuma perempuan.

#kwek!

Tidak muluk mimpiku sebagai perempuan.
Aku tak butuh barang mewah,
justru kudamba barang
biasa yang kan mengukir sejarah hidup
bersamaku.

#kwek! Continue reading

Cerituit: #aku dan #dia

Standard

Cerita #aku dan #dia tayang pada 16 Desember 2012 silam di jejaring sosial Twitter @erulenonk. Yang saya tayangkan ulang di jurnal ini adalah yang sudah direvisi terutama kata-kata yang saya singkat berhubung hanya diperbolehkan 144 karakter per-cuitan.

aku dan dia
source: x

#aku dan #dia
1. Suatu hari #aku melihat #dia, wanita itu, entah darimana berasal, tiba-tiba saja dia ada, dan selalu ada di hari-hariku sejak itu. Continue reading