Balada Priwitan

Standard

Priit… priitt…

Lirih suara itu terdengar, sayup terdengar keraguan
Dalam nada yang terdengar tanpa gairah itu
Mungkin ada sebersit rasa rendah diri di sana
Suara priwitan itu begitu lirih, tidak enak didengar

(Kenapa, oh kenapa? Lirih, tanpa gairah, seru mereka, mati saja, mati saja!)

Seorang tukang parkir dengan sebuah peluit oranye jelek
Rambutnya ikal dengan panjang tidak lebih dari satu buku jari
Tubuhnya kurus dan pendek, mukanya biasa saja
Takkan banyak yang ingat, dia tidak spesial, tidak istimewa

Priit… priitt…

Suara lirih itu bergema di dalam kepala ini
Tangan tengadah, raut muka memelas
Ada bercak ragu di kerut-kerut mukanya, dalam mata sayunya
Seakan tak yakin dengan apa yang sedang ia lakukan

(Apakah ada pilihan? Tidak, tidak, seru mereka, harusnya iya.)

Selembar uang lecek, nominal kecil yang tidak begitu membanggakan
Disimpannya dalam kantong celana lusuh
Rautnya tidak berubah, penuh ragu, ketidakpastian, dan bingung
Kendaraan itu berlalu dan dia pun menyingkir, menunggu berikutnya

Priit… priitt…

(Apakah cuma uang yang dicarinya? Apalagi, seru mereka, apalagi?)

Advertisements

#NgocehIdentitas: Ribet Budaya, Negara, dan Bangsa

Standard

Postingan pertama 2017 kayaknya berat banget ya. Heh. Tapi enggak juga sih. Sudah lama banget mau rant soal ini, tapi nggak jadi karena saya selalu mikir, it’s not really worth the effort to rant about. Males banget kan, soalnya kepala dan hati bisa digunakan untuk hal-hal lebih produktif. Tapi.

Cukup sudah saya diam.

Continue reading

Human as a Code.

Standard

Or humanizing human by looking at human as a human? Or maybe, SELF: questioning the idea of human?

I don’t know, this is just another midnight muse that won’t let me go until I words-vomit it. I have been on this for most midnights the past week. So if you are going to read this, sorry not sorry for the confusion later on. It’s a messy, jumbled thought. You are warned. Continue reading

Anekdot: Ceruk di Pantai dan Tuhan

Standard

Alkisah, ada seseorang yang disebut saya. Saya ini orangnya selalu penasaran dengan sosok yang dimuliakan manusia sebagai pencipta-Nya. Kata Tuhan adalah alias yang digunakan saya untuk menggambarkan sosok maha sempurna ini. Ketika menuju usia dewasa, saya tertarik untuk memahami Tuhan lebih lanjut dan berpikir untuk mempelajari teologi. Suatu sore, saya mampir ke rumah guru agamanya. Kemudian, saya bercerita pada guru ini tentang keinginannya untuk belajar teologi.


Continue reading

Saya dan Sikap Pro-LGBT

Standard

Saya selalu, sepanjang ingatan saya, pro dengan keberadaan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender)[1], walaupun tidak pernah mengambil tindakan konkrit dan khusus untuk menyuarakan sikap saya ini. Dengan postingan ini, saya ingin turut bersuara atas sikap saya. Beruntungnya saya diberi kehebohan lain saat isu ini sedang panas-panasnya dibahas, sehingga kini saya sudah lebih tenang dalam bersuara :v.

Continue reading

#Senyap – Realitamu, Realitaku?

Standard

Senyap (The Look of Silence)

  • Language: Indonesian/Javanese
  • Year Released: 2014
  • Director: Joshua Oppenheimer
  • Starring: Adi Rukun
  • Realitamu, Realitaku?

    Tanggal 10 November 2014 adalah tanggal yang dipilih untuk meluncurkan film yang berjudul Senyap (The Look of Silence) di Indonesia. Tanggal ini juga mempunyai makna sebagai Hari Pahlawan di negeri ini. Saya rasa ada sesuatu yang ingin disampaikan dengan pemilihan tanggal ini. Siapa itu pahlawan? Yang membela negara? Selepas menonton film ini, mungkin timbul pertanyaan-pertanyaan baru tentang artian pahlawan dan membela negara itu sendiri. Continue reading