#NgocehIdentitas: Ribet Budaya, Negara, dan Bangsa

Standard

Postingan pertama 2017 kayaknya berat banget ya. Heh. Tapi enggak juga sih. Sudah lama banget mau rant soal ini, tapi nggak jadi karena saya selalu mikir, it’s not really worth the effort to rant about. Males banget kan, soalnya kepala dan hati bisa digunakan untuk hal-hal lebih produktif. Tapi.

Cukup sudah saya diam.

Continue reading

Advertisements

Human as a Code.

Standard

Or humanizing human by looking at human as a human? Or maybe, SELF: questioning the idea of human?

I don’t know, this is just another midnight muse that won’t let me go until I words-vomit it. I have been on this for most midnights the past week. So if you are going to read this, sorry not sorry for the confusion later on. It’s a messy, jumbled thought. You are warned. Continue reading

Anekdot: Ceruk di Pantai dan Tuhan

Standard

Alkisah, ada seseorang yang disebut saya. Saya ini orangnya selalu penasaran dengan sosok yang dimuliakan manusia sebagai pencipta-Nya. Kata Tuhan adalah alias yang digunakan saya untuk menggambarkan sosok maha sempurna ini. Ketika menuju usia dewasa, saya tertarik untuk memahami Tuhan lebih lanjut dan berpikir untuk mempelajari teologi. Suatu sore, saya mampir ke rumah guru agamanya. Kemudian, saya bercerita pada guru ini tentang keinginannya untuk belajar teologi.


Continue reading

Saya dan Sikap Pro-LGBT

Standard

Saya selalu, sepanjang ingatan saya, pro dengan keberadaan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender)[1], walaupun tidak pernah mengambil tindakan konkrit dan khusus untuk menyuarakan sikap saya ini. Dengan postingan ini (dan satu postingan lain yang masih ditulis), saya ingin turut bersuara atas sikap saya. Beruntungnya saya diberi kehebohan lain saat isu ini sedang panas-panasnya dibahas, sehingga kini saya sudah lebih tenang dalam bersuara :v.

Continue reading

#traveling, saya, dan lamunan

Standard

Traveling atau jalan-jalan. Di tengah malam ini, biarlah saya sedikit melamun tentangnya.

Akhir-akhir ini, seakan tiada jalan-jalan buat saya. Tugas-tugas kuliah yang memburu, saya kambing hitamkan sebagai penyebabnya. Tadi malam ada dua teman saya yang bertanya tentang destinasi yang bisa disambangi buat libur hari ini. Ah, rupanya saya sudah dicap pejalan akut oleh teman-teman.

Saya rindu perjalanan baru, bertemu dengan yang baru, dan merasakan kecanggungan atas kebaruan pengalaman.
Continue reading

VerseTime: Ingat Mamak Kau Dan Jangan

Standard

“Kau bayangkan itu mamak kau. Yang susunya kau pegang-pegang!”

Adalah kata-kata yang meradang dalam benak ini, dan menggeram, dan meraung. Mata ini terus mengilas balik hari itu.

“Babi kau!” Makian itu panas di lidah, tapi tak pernah mewujud jadi bunyi. Apa salah si babi sampai harus kupinjam namanya untuk memaki lelaki muda keparat itu.

Kulihat dia menempeli ibu dua anak itu, yang duduk dan tidak terlihat nyaman dengan teman sebelahnya yang duduk sengaja menempel itu.

Terperangah aku ketika kulihat jari jemari itu perlahan terlihat muncul dari sela-sela tubuh mereka berdua yang menempel. Jelas sekali jari-jari lancang itu baru saja mampir dari mana.

Kutatap keparat itu dengan berang. Mataku mungkin berapi, sikapku mungkin garang.

Dia menatap balik. Pandangan mata yang datar. Tidak panik karena baru saja tertangkap basah. Tidak pula menantang. Hanya menatap. Mungkin bertanya, “apa yang akan kau lakukan?”

Kereta melambat. Aku berdiri. Aku tatap kembali si keparat, kata-kata masih mencekat leherku.

Dia kembali menatap. Si ibu kembali mengurusi anaknya yang masih kecil. Dua anak perempuan yang manis dan ceria, yang tidak tahu apa yang baru terjadi pada ibunya.

Aku tahu. Aku diam. Ibu itu juga diam, mungkin ingin lupa. Lelaki itu juga diam. Tatapannya tetap datar.

Kuangkat tanganku yang mengepal membentuk tinju.

“Babi kau!” geram benakku.

Kulayangkan tinjuku. Pintu kereta membuka. Hanya udara yang menjadi korban. Langkahku berat. Hatiku meradang. Kata-kata masih membisu dalam tenggorok. Pintu kereta menutup. Mereka berlalu.

Aku melangkah pergi. Diam. Diam, namun tidak akan lupa. Diam, namun terus bising dalam ingatan.

Diam.

—-

Catatan:
Kejadian ini nyata, terjadi Senin, 21 Oktober 2013 menjelang pukul 8 pagi di CommuterLine jurusan Jatinegara menuju Bogor. Pertama kali bersuara di Facebook, 24 Oktober 2013. Kebisuanku kala itu telah mencabik hati.