Anekdot: Ceruk di Pantai dan Tuhan

Standard

Alkisah, ada seseorang yang disebut saya. Saya ini orangnya selalu penasaran dengan sosok yang dimuliakan manusia sebagai pencipta-Nya. Kata Tuhan adalah alias yang digunakan saya untuk menggambarkan sosok maha sempurna ini. Ketika menuju usia dewasa, saya tertarik untuk memahami Tuhan lebih lanjut dan berpikir untuk mempelajari teologi. Suatu sore, saya mampir ke rumah guru agamanya. Kemudian, saya bercerita pada guru ini tentang keinginannya untuk belajar teologi.


Continue reading

Advertisements

VerseTime: Ingat Mamak Kau Dan Jangan

Standard

“Kau bayangkan itu mamak kau. Yang susunya kau pegang-pegang!”

Adalah kata-kata yang meradang dalam benak ini, dan menggeram, dan meraung. Mata ini terus mengilas balik hari itu.

“Babi kau!” Makian itu panas di lidah, tapi tak pernah mewujud jadi bunyi. Apa salah si babi sampai harus kupinjam namanya untuk memaki lelaki muda keparat itu.

Kulihat dia menempeli ibu dua anak itu, yang duduk dan tidak terlihat nyaman dengan teman sebelahnya yang duduk sengaja menempel itu.

Terperangah aku ketika kulihat jari jemari itu perlahan terlihat muncul dari sela-sela tubuh mereka berdua yang menempel. Jelas sekali jari-jari lancang itu baru saja mampir dari mana.

Kutatap keparat itu dengan berang. Mataku mungkin berapi, sikapku mungkin garang.

Dia menatap balik. Pandangan mata yang datar. Tidak panik karena baru saja tertangkap basah. Tidak pula menantang. Hanya menatap. Mungkin bertanya, “apa yang akan kau lakukan?”

Kereta melambat. Aku berdiri. Aku tatap kembali si keparat, kata-kata masih mencekat leherku.

Dia kembali menatap. Si ibu kembali mengurusi anaknya yang masih kecil. Dua anak perempuan yang manis dan ceria, yang tidak tahu apa yang baru terjadi pada ibunya.

Aku tahu. Aku diam. Ibu itu juga diam, mungkin ingin lupa. Lelaki itu juga diam. Tatapannya tetap datar.

Kuangkat tanganku yang mengepal membentuk tinju.

“Babi kau!” geram benakku.

Kulayangkan tinjuku. Pintu kereta membuka. Hanya udara yang menjadi korban. Langkahku berat. Hatiku meradang. Kata-kata masih membisu dalam tenggorok. Pintu kereta menutup. Mereka berlalu.

Aku melangkah pergi. Diam. Diam, namun tidak akan lupa. Diam, namun terus bising dalam ingatan.

Diam.

—-

Catatan:
Kejadian ini nyata, terjadi Senin, 21 Oktober 2013 menjelang pukul 8 pagi di CommuterLine jurusan Jatinegara menuju Bogor. Pertama kali bersuara di Facebook, 24 Oktober 2013. Kebisuanku kala itu telah mencabik hati.

Sudah.

Standard

Sudah usap itu air mata
Pilu itu hati, tidak bantu
Sudah henti itu air mata
Ingin saja, omong itu kosong
Sudah, sudah, kata pertiwi
Angkat kepala itu,
Dan pikir
Angkat tangan itu,
Dan buat
Sudah itu saja

Ellen, 20/10/13, akhir seminar BWCF2013

VerseTime: Ordnung

Standard

p1020216
source: x

Ordnung

KIT
Amm
arg.

_________________
Posted on Facebook Note on Friday, November 21, 2008 at 12:47pm

I remembered writing this in the german literature class when the lecturer told us to make a concrete poetry. I know what I am writing up there, it’s kind of childish and foolish of me, but you will never know :p

VerseTime: aku bodoh

Standard

akubodoh

aku bodoh
otakku bagai tong kosong berbunyi nyaring
aku bodoh
yang kulihat adalah apa yang dilihat orang lain
aku bodoh
didikte? dibodohi? ditipu? disetir?

aku bodoh, takut pada kuasa
aku belajar. terus dan terus.
jatuh dan jatuh dan jatuh.
setapak demi setapak, kucari apa itu pintar.
benarkah? keadilankah? uangkah? kuasakah? akukah? tuhankah?

Depok, 28. April 2010 on Facebook Note

VerseTime: a child of curio

Standard

curio
source: x

my heart soars with a will to know,
eyes wander like a nomad, searching,
the fingers linger, touching and feeling
it is not unimaginable, a mockery of mind perhaps
may it be intangible like an unreachable dream, but
it pulsates, grows, unstoppable like air in the lungs
there it is, always there,
waiting for acknowledgment, playing hide and seek
it goes, on and on,
a beginning at its end

ailend. 2010/09/25.