Balada Priwitan

Standard

Priit… priitt…

Lirih suara itu terdengar, sayup terdengar keraguan
Dalam nada yang terdengar tanpa gairah itu
Mungkin ada sebersit rasa rendah diri di sana
Suara priwitan itu begitu lirih, tidak enak didengar

(Kenapa, oh kenapa? Lirih, tanpa gairah, seru mereka, mati saja, mati saja!)

Seorang tukang parkir dengan sebuah peluit oranye jelek
Rambutnya ikal dengan panjang tidak lebih dari satu buku jari
Tubuhnya kurus dan pendek, mukanya biasa saja
Takkan banyak yang ingat, dia tidak spesial, tidak istimewa

Priit… priitt…

Suara lirih itu bergema di dalam kepala ini
Tangan tengadah, raut muka memelas
Ada bercak ragu di kerut-kerut mukanya, dalam mata sayunya
Seakan tak yakin dengan apa yang sedang ia lakukan

(Apakah ada pilihan? Tidak, tidak, seru mereka, harusnya iya.)

Selembar uang lecek, nominal kecil yang tidak begitu membanggakan
Disimpannya dalam kantong celana lusuh
Rautnya tidak berubah, penuh ragu, ketidakpastian, dan bingung
Kendaraan itu berlalu dan dia pun menyingkir, menunggu berikutnya

Priit… priitt…

(Apakah cuma uang yang dicarinya? Apalagi, seru mereka, apalagi?)

Advertisements

VerseTime: Ordnung

Standard

p1020216
source: x

Ordnung

KIT
Amm
arg.

_________________
Posted on Facebook Note on Friday, November 21, 2008 at 12:47pm

I remembered writing this in the german literature class when the lecturer told us to make a concrete poetry. I know what I am writing up there, it’s kind of childish and foolish of me, but you will never know :p

VerseTime: mns

Standard

mns

it ak
mns.
ak hbat
ak tak bth yg lain
ak bs hdup sndiri
ak smprna
ak,
ak,
ak!
smbong,
angkh,
pongh!
ak mns smprna, tak btuh yg lain

*eru. 14.09.09
*though i can be perfect like what i wrote above, i’m still imperfect. aku cuma manusia. biasa dan tak sempurna. tak akan lengkap dalam kesendirian.

VerseTime: home coming

Standard

hellogoodbye
sourcex

hello, goodbye
i want to fly high, up in the sky
i can dive into the sea, deep til the bottom ends
i will climb the mountain, scream for the world to hear
i want to roam the forest, go, go, go, until darkness reign
i can dig the earth, to hide, you can’t see me
i will, oh, but i will
come back home

*dedicated to mom, who worries too much πŸ˜€
*4 september 09

VerseTime: hitam putih yang abu abu

Standard

hitamputihabuabu

hitam putih yang abu abu
hitam, hitam yang benar kelam
adakah?
putih, putih yang benar silau
adakah?
hitam itu jahat!
hei, jahat katanya!
apa benar?
dan putih itu suci?
hei siapa kau yang menentukan?
apa kau hitam dan jahat bisa berkata itu?
lalu kau putih dan terus suci?
abu-abu
itu warnaku, bukan hitam, bukan pula putih
aku baik tapi siapa bilang aku tak jahat?
aku beragama tapi adakah aku percaya Tuhan?
Continue reading

Cerituit: Filosofi Bebek

Standard

So on January 15, 2011, I wrote Filosofi Bebek on my Twitter account under the hashtag #kwek!. A total of 14 tweets, with every tweet separated by #kwek!. Wanted to share it here, it’s in Bahasa Indonesia, edited for style and added some missing words because the limited 144 tweet letters.

And, uh, it’s about life and duck.

bebek
source: x

Filosofi Bebek
oleh @erulenonk, 15 Januari 2011

Aku cuma perempuan
yang tidak istimewa.
Tidak kaya,
tidak rupawan,
tidak pintar.
Pokoknya tidak ideal.
Aku cuma perempuan.

#kwek!

Tidak muluk mimpiku sebagai perempuan.
Aku tak butuh barang mewah,
justru kudamba barang
biasa yang kan mengukir sejarah hidup
bersamaku.

#kwek! Continue reading